BNI Syariah Hindari Pembiayaan Mikro

bni

LiBi Jakarta – PT BNI Syariah mampu menjaga Non Performing Financing (NPF) pada posisi aman sebesar 2,42 persen. Saat ini masih jauh di bawah realisasi kredit macet industri perbankan syariah. Yang berada di kisaran 4,76 persen. Sedang posisi per September 2015 BNI Syariah mencatatkan NPF hanya sebesar 2,54 persen.

Menurut Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano, perlambatan ekonomi yang memengaruhi kondisi keuangan debitur, perlambatan pertumbuhan pembiayaan bank, dan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli merupakan faktor yang menyebabkan kenaikan NPF industri perbankan syariah

Seperti yang dialami BNI Syariah, menurut Dinno, pembiayaan macet paling besar terjadi disektor mikro yang mencapai 6,45 persen. Sedangkan untuk sektor produktif ritel hanya 4,39 persen, konsumsi 1,94 persen, Hasanah Card 5,05 persen. “Justru untuk pembiayaan di atas Rp 10 miliar, malah tidak ada kredit macet sama sekali, oleh karenanya pemberian pembiayaan di sektor mikro kita tutup, ga baerani saya, terutama untuk daerah yang dipengaruhi sektor produk komoditas 100 % macet,” ujar Dinno di Jakarta (22/10)

Untuk kedepan BNI syariah akan menerapkan tiga strategi dalam mengelola NPF, yakni menerapkan kebijakan prosedur pembiyaan yang pruden dan konservatif, konsisten dengan model bisnis yang dijalankan, dan melakukan monitoring yang lengkap dan kuat.

Untuk kinerja keuangan, BNI Syariah melaporkan laba perusahaan sepanjang kuartal III-2015 yang tumbuh signifikan yakni mencapai Rp 156,62 miliar atau melonjak 50,7 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 103,93 miliar.

“Ini merupakan pencapaian yang sangat baik di tengah kondisi perekonomian yang tengah mengalami perlambatan.”

Aaset BNI Syariah per September 2015 mengalami kenaikan sebesar Rp 4,27 triliun menjadi Rp 22,75 triliun atau tumbuh 23,13 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 18,48 triliun.

“Kami optimis dapat mencapai kisaran 20 % tahun ini, menilik RBB memang turun dibandingkan 2014. Tapi tetap lebih tinggi dari industri (perbankan syariah) yang hanya berkisar 12% untuk pertumbuhan aset,” tuturnya

Sementara pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan sebesar 26,77 % menjadi Rp 18,93 triliun pada kuartal III tahun ini dari semula Rp 14,93 triliun.

Begitu juga dengan pembiayaan meningkat dari Rp 14,08 triliun menjadi Rp 16,97 triliun atau tumbuh 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (we/lb)