Produktivitas Buruh Rendah, Investor Hengkang Dari Indonesia

Produktivitas Buruh Rendah, Investor Hengkang Dari Indonesia

images

LiBi Surabaya – Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Amak Yaqoub mengatakan bahwa para investor akan lari jika produktivitas para buruh rendah, sedangkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) naik.

“Menjelang era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sejumlah investor yang semula ingin menanamkan modal di Indonesia bisa jadi mulai melirik negara tetangga karena adanya beberapa faktor, salah satunya produktivitas para buruh yang rendah,” katanya ketika di Surabaya, Jatim, Minggu (29/11/2015).

Ia mengatakan, kawasan Jatim di “Ring 1” yaitu Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan memang menawarkan infrastruktur yang lengkap, namun jika dilihat dari segi produktivitas, maka investor mulai membandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

“Mereka sudah melirik negara-negara ASEAN, seperti Vietnam. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jika upah kita dua sampai tiga kali lipat, tetapi produktivitas kita lebih rendah, maka para investor akan enggan untuk menginvestasikan sahamnya di Jatim,” tuturnya.

Menurut dia, agar Jatim tetap dinilai menarik bagi investor, maka pemerintah harus membuat upaya penawaran berbagai kemudahan. Dukungan dari pemerintah, seperti Badan Penanaman Modal bisa digerakkan dengan memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan pertanahan dan kemudahan perizinan.

“Para investor juga akan bertanya-tanya dan meminta kepastian naik upah para buruh berdasarkan apa, dan besarannya berapa. Karena mereka akan khawatir, jika setiap tahun selalu ada demo buruh, tetapi dihitung juga apakah produktivitas buruh-buruh itu tetap atau meningkat,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, meski dihantui ancaman relokasi pabrik hingga investor yang melirik negara lainnya, ia tetap optimistis jika Indonesia akan meraup untung dari MEA, karena pengusaha dalam negeri memungkinkan melakukan ekspansi usaha dengan lebih luas ke negara lain akibat adanya aliran bebas uang dan investasi.

“Jika melihat MEA ke depannya Indonesia akan memiliki peran penting, apalagi Indonesia digadang-gadang sebagai negara sentral karena memiliki penduduk terbesar di kawasan ASEAN, namun untuk sumber daya manusia juga harus melakukan terobosan sebagai perkembangan untuk Indonesia,” tandasnya.

MEA, ia menambahkan harus dijadikan pengusaha sebagai tantangan sekaligus kesempatan memperbaiki kuaitas produk, untuk membawa produk-produk Indonesia ke kawasan Vietnam, Myanmar, atau Kamboja yang ibaratnya masih Ring 2 atau Ring 3 dengan Indonesia. (ant/lb)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply