Harga Minyak Dunia Mengalami Kenaikan

migas

LiBi New York – Harga minyak dunia naik pada Kamis (Jumat pagi WIB, 20/1/2016), setelah Rusia mengatakan bahwa ia dapat mengadakan pertemuan dengan OPEC atas kemungkinan pemangkasan produksi minyak mentah yang bisa mencapai sebanyak lima persen per negara.

Namun lonjakan tajam harga di awal perdagangan dikupas lebih dari setengahnya setelah keraguan tentang kemungkinan itu meningkat di pasar.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, naik 92 sen menjadi berakhir di 33,22 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Maret, patokan Eropa, menetap pada 33,89 dolar AS per barel di London, naik 79 sen dari penutupan Rabu. Sebelumnya, Brent mencapai tertinggi tiga minggu hampir 36 dolar AS per barel.

Menurut kantor berita Rusia, Menteri Energi Alexander Novak mengatakan bahwa Moskow siap untuk mengambil bagian dalam pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bertujuan untuk membangun kemungkinan “koordinasi”.

Dia juga mengatakan pembicaraan bisa tentang pemotongan produksi sampai lima persen per negara, sebuah tindakan yang secara tajam akan memperketat pasokan minyak mentah internasional.

Julian Jessop, kepala riset komoditas di Capital Economics, mengatakan usulan itu “harus dianggap serius” karena Rusia dan Arab Saudi masing-masing menghasilkan sekitar 10 juta barel per hari, yang mewakili hampir 20 persen dari pasokan global.

Tapi, ia menambahkan, ia meragukan “apa pun langkah nyata akan datang dari seruan terbaru untuk tindakan terkoordinasi “.

Analis Barclays Research juga meremehkan gagasan tersebut.

“Kami tetap sangat skeptis bahwa pertemuan tersebut akan menghasilkan pemotongan pasokan kredibel,” kata mereka dalam sebuah catatan klien.

“Jadi, kami melihat ini sebagai tidak lebih dari upaya untuk menggeser sentimen pasar, dan kami tidak berharap bahwa itu akan mengubah ketidakseimbangan fisik pasar.” “Ada kemungkinan bahwa Rusia sedang menguji situasi untuk mengukur seberapa jauh anggota OPEC akan menanggapi ide pemotongan (produksi),” kata Jason Bordoff, direktur Pusat Kebijakan Energi Global di Columbia University. (ant/lb)