Bila WULAN Tetap Eksis, Bisa Tetap Produktif

_20160616_112531

LiBi Jakarta, Hampir semua orang yang memasuki usia lanjut atau memasukan masa pensiun mengalami gangguan mental psikologis. Hal itu karena kurang siap menghadapi perubahan kehidupannya. Pada kondisi ini sangat diperlukan penguatan dimensi spiritual.‬

“Penduduk lanjut usia kerap diposisikan sebagai beban yang harus ditanggung warga usia produktif dalam kajian bonus demografi. Padahal, dengan pendampingan agar tetap sehat dan aktif, warga lansia tak membebani, bahkan bisa menghasilkan pendapatan,” ungkap Dr. Tony Setiabudhy, PhD kepada wartawan disela Diskusi dan Buka Puasa Bersama di Jakarta, Rabu (15/6/16).

Tony menambahkan, adanya peningkatan jumlah warga lansia, menyebabkan perlunya perhatian pada warga lansia tersebut, agar warga lansia tidak hanya berumur panjang, tetapi dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia, serta meningkatkan kualitas hidup diri mereka.

“Ternyata para warga usia lanjut (WULAN) yang disebutkan dalam deretan tersebut masih bisa menunjukkan eksistensi mereka. Mereka memang terbatas dalam memberikan respons secara fisik, secara fisik ia mengalami penyusutan, tetapi secara rohani ia tetap bisa menjadi raksasa,” tandasnya.

Tony menambahkan, meskipun banyak warga lansia dalam kesehatan yang baik. Namun golongan ini tetap merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit karena terjadinya perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat proses degenerati.

“Perubahan sosial di masyarakat misalnya adanya kecenderungan perubahan struktur keluarga dari keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) ikut membawa perubahan terhadap orang lansia dimana sebelumnya orang lansia tinggal bersama dalam satu rumah dengan anggota keluarga lainnya, namun perubahan itu menyebabkan orang lansia tinggal terpisah dengan anak-anak mereka,” ujarnya.

Masih menurutnya, kondisi ekonomi orang lansia juga mengalami perubahan apabila dibandingkan ketika masih muda. Maka orang lansia hendaknya mampu beradaptasi dengan keadaan yang baru ini.

“Penduduk lansia secara individual merupakan penduduk yang potensial menjadi “beban” keluarga dan masyarakat terutama bagi mereka yang memasuki usia tuanya tidak dipersiapkan sejak dini. Tingkat keamanan finansial penduduk lanjut usia Indonesia agar mandiri menopang kebutuhan hidupnya rendah karena kesempatan lansia bekerja sesuai kemampuannya minim,” paparnya.

Lebih lanjut katanya, seiring kesempatan berkarya, lansia tak perlu membebani penduduk usia produktif.‬

kurangnya perhatian dari pemerintah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya lansia yang depresi di negara Asia, khususnya China dan Korea. Para lansia di negara tersebut harus bekerja keras untuk mendapatkan pengasilan sendiri tanpa ada jaminan dari pemerintah. ‬

‪Namun, disisi lain jumlah penduduk di Indonesia yang begitu besar diantara negara negara yang ada di dunia tentunya akan menjadi keuntungan tersendiri oleh negara ketika indonesia yang berkempatan mengambil keuntungan dari bonus demografi itu sendiri, Bagaimana jika penduduk lansia menjadi persoalan tersendiri ketika mereka sudah tidak produktif lagi menyambut bonus demografi?‬ (ega)