Pemerintah Ubah Sistem Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Pemerintah Ubah Sistem Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(Dari kiri ke kanan; Pipit Indrawati, Head of Content Quipper Indonesia; Dr. Arry Bainus, M.A., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran; Fajar Priautama, Kepala Kasi Teknologi Pembelajaran dan Akademik; Horale Tua Simanullang, S.Pd, MM, Kepala Sekolah SMAN 61 Jakarta)

Lintas Bisnis.com Jakarta – Pemerintah berencana mengubah sistem seleksi penerimaan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal tersebut guna perbaikan sistem yang lebih baik dan untuk melihat efektivitas penerimaan mahasiswa.

Jadi ada 2 jalur yang dibuka pemerintah yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang merupakan jalur undangan prestasi akademik, dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang merupakan ujian terbuka bagi calon mahasiswa yang ingin masuk PTN.

“Perubahan tersebut dilakukan untuk perbaikan baik dari sistem maupun dari sisi penerimaan, sehingga PTN dapat menyaring calon mahasiswa terbaik,” ujar Kepala Seksi Pembelajaran dan Teknologi Kemenristek Dikti, Fajar Priautama ditemui dalam acara diskusi pendidikan siang ini di bilangan Kuningan, Jakarta, Selasa (19/2/2018).

Menurut dia, tercatat pada tahun 2018 kata kunci SNMPTN dicari lebih dari 2 juta kali, dan kata kunci SBMPTN dicari lebih dari 4 juta kali melalui mesin. Jumlah tersebut diprediksi akan meningkat karena tahun ini pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi membuat peraturan terbaru.

“Pada SNMPTN 2018, PTN wajib menyisihkan minimal 30% daya tampung mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN. Sedangkan, tahun ini PTN hanya wajib menyisihkan 20% saja,” ungkap Fajar.

Penurunan persentase tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SBMPTN yang tahun ini sistem pelaksanaannya mengalami perubahan yang cukup signifikan.

“Selain mengubah sistem ujian menjadi berbasis komputer, sistem penilaian dan periode pelaksanaan pun juga berubah,” tutur Fajar.

Menurut dia, jika dulu pelaksanaan ujian dilaksanakan satu kali saja, kini ujian dapat dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang dapat ditentukan sendiri oleh peserta.

Hal ini dapat dilakukan karena ujian berlangsung beberapa kali selama periode SBMPTN 2019 berlangsung, sejak Maret – Mei 2019. Selain itu siswa dapat mendaftarkan diri ke PTN setelah mendapatkan nilai dari SBMPTN.

Menanggapi perubahan yang terjadi, Head of Content Quipper Indonesia Pipit Indrawati, menyampaikan, Quipper selaku perusahaan pendidikan teknologi juga mempersiapkan diri untuk membantu siswa.

“Kami melakukan persiapan yang sangat serius terkait konten. Khusus untuk SBMPTN, kami mempersiapkan Paket Intensif SBMPTN 2019 yang berisi paket prediksi soal, tryout, bank soal SBMPTN sebelumnya serta tips dan trik cara mengerjakan soal. Tim konten juga telah menyiapkan konten soal yang mengandung materi High Order Thinking Skills (HOTS) sesuai dengan arahan pemerintah,” kata Pipit.

Dia menambahkan, bahwa Quipper juga menyiapkan fitur Quipper Video Masterclass untuk membantu siswa untuk memperdalam pembelajarannya secara personal melalui tutor dan kakak pembimbing yang siap dapat berkomunikasi langsung via chat di aplikasi.

Diharapkan dengan berbagai persiapan yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Negeri, Sekolah dan juga swasta, peralihan sistem ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat memudahkan calon mahasiswa.

Sebagai perusahaan edukasi teknologi, Quipper juga berharap perubahan sistem ini dapat berjalan secara berkesinambungan dan tentunya membantu persiapan calon mahasiswa secara maksimal melalui konten paket intensif SBMPTN 2019 serta Quipper Video Masterclass.

Dalam diskusi tersebut hadir pula Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Padjadjaran Bapak Dr. Arry Bainus, M.A.dan Horale Tua Simanullang, S.Pd, MM – Kepala Sekolah SMAN 61 Jakarta.

Keduanya mengaku bahwa PTN dan sekolah telah siap menerima perubahan sistem dan melakukan sosialisasi kepada para peserta seleksi penerimaan mahasiswa baru.

Fajar menambahkan, seleksi SBMPTN dan seleksi UMPTN adalah dengan ujian tulis berbasis komputer. Jadi seorang siswa dipersilahkan mengikuti ujian tertulis berbasis komputer itu, dan pemerintah memberikan kesempatan 2 kali.

Tetapi dengan catatan apabila mahasiswa itu tidak mau ikut seleksi, jadi begitu daftar ujian langsung seleksi sekarang tidak diberi kesempatan. Makanya ujian tertulis berbasis komputer itu nanti ada beberapa komponen nilai-nilai bahkan bila untuk penjurusan kedokteran atau Farmasi atau keperawatan di SBMPTN 2 kali.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply