Kadin, Bulir Padi Datangkan Ahli Taiwan untuk Tingkatkan Produksi Bawang Putih

Kadin, Bulir Padi Datangkan Ahli Taiwan untuk Tingkatkan Produksi Bawang Putih

Lintas Bisnis.com Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan perusahaan swasta nasional, PT Bulir Padi Lintas Nusantara bekerja sama mendatangkan tenaga ahli pertanian dari Taiwan untuk meningkatkan kapasitas produksi produk hortikultura khususnya bawang putih di Indonesia. Kerja sama tersebut nantinya akan menerapkan standardisasi untuk kegiatan budidaya tanaman yang baik.

“(Petani) kita belum sampai pada kegiatan budidaya dengan standardisasi terutama untuk keamanan pangan, keberlanjutan lingkungan, kesehatan dan lain sebagainya. Tapi sementara kami masih focus pada pembibitan yang memang menjadi masalah besar,” kata Direktur Utama PT Bulir, Stephen Lo mengatakan kepada Redaksi, Minggu (9/6/2019).

Sebagaimana Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia terus menyosialisasikan prinsip dan panduan GAP (Good Agricultural Practices) atau Pertanian yang Baik. Petani dan industry berkolaborasi dengan panduan GAP bisa meningkatkan daya saing. Penyerapan produk pertanian oleh pasar internasional dan domestic juga akan berlangsung dengan baik.

“Kami sempat impor bibit bawang putih dengan grade dari Taiwan. Tapi tahun ini, izin impor dibekukan karena virus. Sehingga, kami mengandalkan bibit local yang belum standard GAP. Ketersediaan saprodi (sarana produksi) pertanian seperti benih, pupuk, obat-obatan juga terus ditingkatkan sampai kita swasembada bawang putih pada tahun 2020 mendatang,” tegas Stephen.

Sementara itu, PD Pasar Jaya berharap dukungan perusahaan swasta seperti PT Bulirpadi Lintas Nusantara untuk stabilisasi harga beberapa komoditas, termasuk bawang putih jelang hari raya keagamaan seperti Idul Fitri, Natal, Imlek. Kendatipun pasokan bawang putih ke pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur masih mengandalkan impor, tapi perlu ada stabilisasi. Kegiatan Bazar Ramadhan 2019 Kadin (Kamar Dagang dan Industri) dan PT Bulirpadi di Pasar Santa (Kebayoran Baru, Jakarta Selatan) sebagai solusi menjaga stabilitas harga.

“Fakta di Pasar Induk, pasokan bawang putih impor dari Tiongkok dan India mencapai sekitar 95 persen. Tapi harga stabil, (yakni) Rp 24 – 25 ribu per kilo. Bulan lalu, harga melonjak tinggi,” ungkap Direktur Usaha dan Pengembangan Pasar Jaya, Anugrah Esa mengatakan kepada Redaksi.

Selain bawang, komoditas buah-buahan di Pasar Induk lebih didominasi pasokan lokal ketimbang impor. Kendatipun, tekstur buah-buahan impor kelihatan lebih bagus dan menarik. Tetapi untuk rasa dan aroma, buah-buahan lokal lebih tinggi. Hal ini juga berlaku untuk bawang putih. Tampilan bawang lokal lebih kecil, tetapi rasa lebih pedas dan aromanya tinggi.

“Sejarah Indonesia, sejak dulu rempah-rempah kita termasuk bawang, lada selalu diincar pedagang luar negeri. Sehingga peran pemerintah, swasta harus bisa ekspor produk lokal. Bulirpadi sudah melangkah maju dengan ekspor bawang putih hasil petani di kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ini harus ditingkatkan. Selain, kita juga harus mengedukasi pengunjung pasar,” tegas Anugrah Esa.

Di tempat yang sama, Sekretariat Tim MoU Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Iman Heoruman menegaskan bahwa program Pemerintah terutama Kementerian Pertanian (Kementan) sudah efektif untuk menjaga pasokan bawang putih.

“Mekanisasi dan teknologi cocok tanam untuk bawang putih di Indonesia berbeda dengan di Tiongkok. Kondisi geografis di Tiongkok, lahan cocok tanam tidak berlereng-lereng. Sementara di Indonesia, lahanya berlereng di pegunungan. Iklim Tiongkok juga sub-tropis, sementara Indonesia tropis. Sehingga kita harus realistis untuk genjoti terus kapasitas produksi bawang putih di Indonesia,” ujar Iman.

Cocok tanam bawang putih juga tidak seluruhnya cocok di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Secara geografis, cocok tanam bawang putih berada di atas 800 meter di atas permukaan laut. Daerah dingin seperti di Jawa Tengah, misalkan kabupaten Batang, Karanganyar ideal untuk cocok tanam bawang. Selain itu, kecamatan Berastagi (Karo), Rantau Prapat (Sumatera Utara) juga cocok. Peran swasta, terutama beberapa konsultan pertanian asal Taiwan juga diperlukan. Pengetahuan dan peluang untuk alih teknologi pertanian Taiwan juga bisa mendongkrak kapasitas produksi bawang lokal Indonesia. Kegiatan pertanian dan perkebunan akan terus dialihkan dari tradisional menjadi semi modern.

“Produksi nasional kita sekitar enam ton per hektar, kondisinya basar. 60 persen dari enam ton tersebut, yang kondisinya kering. Badan Usaha yang mau melakukan impor, harus mendapat RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura). Syaratnya, penanaman sampai lima persen dari kuota impor yang diajukan. Dari angka tersebut dibagi enam ton. Kalau kita mau impor sebanyak 10 ribu ton, penanaman harus mencapai 83 hektar (lahan). ketentuan ini yang secara simultan akan mendongkrak kapasitas produksi, sampai target swasembada bawang pada tahun 2021 mendatang,” tegas Iman.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply