Kemenhub Gandeng Yayasan Save The Children, ‘Edukasi’ Keselamatan Lalu Lintas

Kemenhub Gandeng Yayasan Save The Children, ‘Edukasi’ Keselamatan Lalu Lintas

Lintas Bianis.com Jakarta – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menggandeng Yayasan Save The Children, memberikan pengetahuan pada siswa-siswa untuk belajar keselamatan berlalu lintas di jalan, agar tingkat kecelakaan berlalu lintas dapat diminimalisir sedini mungkin.

Kasi Promosi, Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub Sapril Imanuel Ginting mengatakan, pihaknya memberikan pengetahuan kepada siswa-siswa sekolah terhadap keselamatan berlalu lintas disaat anak-anak berada di jalan raya.

“Kegiatan pada hari ini belajar keselamatan bersama Direktorat keselamatan. Kita sudah melaksanakan pekan keselamatan lalu lintas pada anak-anak sekolah sejak 2009. Untuk tahun ini kita melaksanakan serentak di beberapa balai di Indonesia, ada kurang lebih 9 balai secara bersama di Indonesia untuk anak-anak SD dan SMP. Kegiatan ini kita bekerjasama dengan Yayasan Edukasi Children,” kata Sapril di Jakarta, Jumat (13/9/2019) kemarin.

Menurut dia, selama pelaksanaan banyak yang dipaparkan pesan-pesan keselamatan pada adik-adik. Bila dilihat dari tahun ke tahun tingkat kecelelakaan lalu lintas sudah menurun. Kalau tahun lalu (data Kemenhub) itu tingkat kematian akibat kecelakaan berlalu lintas sekitar 31 ribu.

“Untuk tahun 2018, data yang kami peroleh dari Kepolisian itu 29.500 memang menurunnya sedikit, tetapi kecelakaan kendaraannya yang banyak,” ungkap Sapril.

Kegiatan ini pertama menurut Syafril, dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi fasilitator sebaya program Selamat terkait instansi pemerintah yang menangani isu lalu lintas. Kedua, menambah minat dan kemampuan fasilitator sebaya dalam menjalankan kegiatan program Keselamatan Lalu Lintas.

“Kami berharap agar kegiatan ini dapat berlangsung setiap tahun dan pelaksanaannya kalau bisa di 25 balai. Kita punya kegiatan keselamatan lalu lintas di 25 balai secara serentak. Kami sudah melaksanakan kegiatan ini untuk anak SD, SMP dan pada tanggal 25 kami melakukan sosialisasi kegiatan pada anak SMA. Setiap tahun kita melakukan sosialisasi keselamatan lalu lintas tidak hanya di Jakarta, tetapi juga ke beberapa daerah di Indonesia,” tutur Sapril.

Sementara itu, Kepala Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor, Caroline Noorida Aryani menyampaikan, pihaknya akan terus mendorong terpenuhinya hak-hak anak. Salah satu perwujudan dari hak anak tersebut adalah hak perlindungan anak melalui program selamat.

“Dengan sosialiasi, edukasi keselamatan berlalu lintas ini, kita ingin tujuannya agar dapat berkontribusi terhadap penurunan angka kecelakaan. Untuk saat ini, dalam mengintervensikan ini di Jakarta ada di 20 sekolah yang berlokasi di Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Jadi untuk SD sebanyak 10 sekolah dan SMP sebanyak 10 sekolah,” jelas Carolina.

Menurut dia, perwujudan intervensi ini adalah walaupun judulnya adalah sosialisasi, namun pihaknya melakukan lebih sekedar sosialisasi. Jadi melatih anak-anak, guru juga orang tua untuk bagaimana berkeselamatan berlalu lintas.

Oleh karena itu, faktor menetapkan anak yang berisiko itu datangnya dari peran orang tua. Misalnya saat anak mengantar ke sekolah itu tidak memakai helm. “Kenapa tidak memakai helm?, karena dekat kok, cuma dekat saja. Atau ketika mengantar tidak diberhentikan di depan sekolah sebagaimana mestinya. Jadi anak dibiarkan untuk menyeberang sendiri,” papar Carolina.

Sementara itu lanjut dia, disekolah sendiri belum ada dengan “assesment” di awal, belum ada sekolah yang mempunyai standar operation atau prosedur yang mengatur tentang keselamatan berlalu lintas ke sekolah.

“Melalui program ini meminta anak-anak untuk mengidentifikasi, kira-kira faktor resiko apa yang ada di sekolah misalnya tidak adanya petugas keamanan untuk membantu menyeberangi anak jalan. Kemudian juga petunjuk zebra cross itu sudah tidak terlihat lagi, terkadang lampu lalu lintas ada yang bekerja dan tidak, juga tidak ada regulasi,” ungkap Carolina.

Sementara dari guru sendiri, pihaknya melihat di awal program ini adalah mereka tahu sebenarnya misalnya salah satu mitigasi resiko untuk bisa keselamatan berkendara itu dengan menggunakan helm. Tetapi terkadang mereka tidak mau cara mengajarkan anak dan orang tua, melalui prorgram ini akan meningkatkan skill guru bagaimana mengajarkan hal-hal seperti itu kepada siswa dan juga dengan orang tua.

“Kemudian kita berharap bisa di integrasikan dikurikulum. Sehingga yang kita edukasi pada kelas VII dan VIII, mudah-mudahan mereka bisa menerapkan kepada teman sebayanya. Kebetulan yang kami bawa adalah fasilitator sebaya, jadi merekalah yang akan bertugas untuk menyebarkan informasi dari pelatihan. Mereka sudah dilatih dan mereka sudah dibawah kesini utk melihat tahapannya seperti itu,” ucap Carolina.

Dia berharap, ketika anak-anak itu sudah “aware” bagaimana berkendara yang aman, bukan berarti mereka di dorong dari sisi untuk dapat berkendara, karena usia mereka memang belum mencukupi untuk boleh membawa kendaraan.

“Namun menjadi agen-agen apa yang di dapat sekarang. Mudah-mudahan angka kecelakaan di jalan bisa dikurangi lebih dari sisi manusia. Kenapa dari SD dan SMP ?, kalau SMA itu, kita anggap sudah berhasil, bahkan kita ingin dari sisi usia Paud, selama usia 4 tahun lalu berakhir di SMP sudah di sosialisasikan pentingnya keselamatan berlalu lintas,” pungkasnya.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply