Pendidikan Belanda Utamakan Calon Mahasiswa Indonesia Dengan Minat, Bukan Iming-iming Beasiswa

Pendidikan Belanda Utamakan Calon Mahasiswa Indonesia Dengan Minat, Bukan Iming-iming Beasiswa

Lintas Bisnis.com Jakarta – Netherlands Education Support Office (NESO)Indonesia mengakui, Pendidikan tinggi di negara Belanda lebih mengedepankan pemikiran kritis mahasiswa dari luar negeri termasuk Indonesia ketika berkegiatan kuliah dan tidak terpaku dan tidak terbuai dengan fasilitas beasiswa. Sehingga NESO Indonesia sangat berharap para orang tua, guru dan stakehoders termasuk pers menyampaikan hal ini kepada para calon mahasiswa.

“Mereka (calon mahasiswa) yang berminat kuliah di berbagai Universitas di Belanda harus tahu mana yang sesuai dengan kemampuan, minat. Para orang tua, guru bisa membantu mereka bikin perencanaan. Informasi mengenai pendidikan Belanda jangan hanya dilihat dari ada atau tidaknya fasilitas beasiswa,” kata Coordinator Education Promotion NESO Indonesia, Inty Dienasari mengatakan kepada Redaksi, Kamis (17/10/2019).

Menurut dia, NESO akan ikut pada Pameran Pendidikan Tinggi Eropah (EHEF/European Higher Education Fair) bersama negara anggota Uni Eropah (EU) lainnya di Indonesia. Pameran akan diselenggarakan pada akhir Oktober sampai Awal Nopember di tiga kota besar yakni Jakarta, Surabaya dan Bandung.

“EHEF akan menampung 119 universitas dari Eropah termasuk Belanda. Kami berharap pameran dibarengi dengan pengubahan mindset calon mahasiswa Indonesia, dengan minat yang tinggi. Talent rata-rata siswa Indonesia sangat bagus. IPK (indeks prestasi kumulatif) lebih dari tiga, angka (nilai) rata-rata dengan point sembilan. Tapi talent tanpa minat, tanpa perencanaan studi yang baik, hasilnya pasti buruk,” tegas Inty.

EHEF 2019 akan diikuti oleh 14 negara anggota EU, serta institusi beasiswa Indonesia. Salah satu institusi tersebut yakni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Hal ini menjadi EHEF sebagai pameran pendidikan Eropa terbesar di dunia. Setiap kali penyelenggaraan, ada 100 lembaga pendidikan tinggi Eropah berpartisipasi.

“Pendidikan Belanda tidak jor-joran menarik siswa dari luar negeri dan iming-iming beasiswa. Ikut pameran termasuk EHEF dari segi biaya, tentunya mahal. Mungkin kalau siswa Indonesia tertarik dan sangat berminat, mereka bisa cari informasi dengan online. Tapi kembali lagi budaya orang Asia, yang masih merasa perlu untuk bertemu, tatap muka,” kata Inty.

EU memang memberikan fasilitas beasiswa yakni Erasmus+ kepada siswa Indonesia untuk kuliah di berbagai negara Eropah. Setiap tahunnya, sekitar 200 siswa dari berbagai daerah di Indonesia mendapat beasiswa. Program yang diincar mulai dari S2 (master degree) sampai S3 atau Ph.D. selain itu, ada program scholar atau dosen untuk akademisi yang ingin melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah di berbagai lembaga.

“Kami ikut EHEF, tapi promosi pendidikan Indonesia, China di Belanda juga berjalan. Kalau ada sekolah, kampus di Indonesia, di China terbukti bagus, kami promosikan. Yang penting, minat calon mahasiswa. Mereka tahu disiplin ilmu yang kiranya pas untuk digeluti dan sesuai dengan harapan ketika bekerja. Pemerintah Belanda menilai pendidikan bukan income, tapi upaya memperkaya ilmu pengetahuan,” tegas Inty.

Di tempat berbeda, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Yanuar Nugroho meyakini para akademisi, peneliti, profesional mengenai dana abadi pendidikan. Bahkan Presiden Joko Widodo sudah menyetujui alokasi dana abadi pendidikan mencapai Rp 100 triliun. Dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk kegiatan riset, dan tunjangan untuk perguruan tinggi di Indonesia.

“Terutama PTN (Perguruan Tinggi Negeri) harus meningkatkan kualitas setelah mendapat dana abadi. Tahapannya, (pencairan dana) jumlahnya Rp 5 – 50 triliun dalam kurun waktu lima tahun,” ungkap Yanuar mengatakan kepada pers beberapa waktu yang lalu.

Selama ini hanya dua PTN yakni UI dan UGM masuk kategori universitas terbaik dunia. Ke depannya, Pemerintah berharap lebih banyak lagi PTN termasuk ITB, Universitas Brawijaya, IPB mengekor UI dan UGM. Alokasi dana abadi dengan jumlah besar diharapkan bisa membangun ekosistem perguruan tinggi dan pengembangan kapasitas SDM.

“Mulai dari pimpinan sampai pada content harus berkualifikasi internasional. Sertifikat dari PTN dan PTS (perguruan tinggi swasta) Indonesia mengikuti model akademisi internasional, termasuk ketentuan menulis jurnal berindeks. Rektor asing juga akan mendorong kualitas pendidikan PTN,” tegas Yanuar.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply