Peningkatan Konsumsi, Ekspor Kopi Indonesia Meningkat Selama Pelaksanaan WFH

Lintas Bisnis.com Jakarta – Produsen kopi, baik ekspor maupun untuk pasokan pasar dalam negeri tidak terkena dampak dari serangan wabah virus corona (Covid-19), sebaliknya ada peningkatan konsumsi karena pelaksanaan tugas kedinasan di rumah (work from home/WFH).

Logikanya pegawai swasta maupun pemerintah lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, sehingga membuat kopinya sendiri.

“Mereka tidak beli di warung atau coffee shop, sebaliknya seduh, brewing (kopi) sendiri. (konsumsi) Specialty coffee atau kopi berkualitas bagus termasuk Luwak yang cenderung meningkat. Pecinta kopi juga seperti terbawa arus petualangan rasa dan seni menikmati kopi,” kata Stephen Lo (Lo Chieh-feng) dari Dewan Kopi Indonesia (Dekopi).

Di sisi lain, kopi erat kaitan dengan gaya hidup atau ‘kekinian’ terutama di berbagai kota besar seperti Jakarta. Konsumen, termasuk pecinta kopi sering memadati berbagai coffee shop termasuk Starbucks. Tetapi akibat covid-19, kedai-kedai kopi terkena impas, yakni penutupan selama pelaksanaan PSBB (pembatasan social berskala besar) atau lockdown.

“Café tutup, tapi orang yang minum kopi di rumah meningkat selama lockdown. Twind (Taiwan Indonesia) Coffee, salah satu produsen kopi Indonesia yang main (produksi) specialty coffee mengalami peningkatan penjualan. Bahkan, banyak konsumen yang beli peralatan (pembuatan) kopi untuk di rumah. Mereka mau giling kopi sendiri, dengan peralatan yang harganya antara 10 – 20 juta rupiah. Mesin pembuat kopi, termasuk yang impor dari Taiwan juga semakin banyak dicari selama pelaksanaan PSBB,” tegas Stephen Lo.

Sebagaimana Kementerian PPN/Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) tengah merumuskan protocol masyarakat  produktif dan aman dari Covid-19. Sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo, saatnya #MenujuNormalBaru atau New Normal, hidup berdampingan dengan Covid-19 dengan konsisten menerapkan protocol kesehatan.

Beraktivitas dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat sebagai pola hidup guna mencegah penularan covid-19. Pengurangan PSBB bersifat dinamis dan sangat ditentukan oleh perkembangan kriteria yang dipantau dan dievaluasi melalui Dashboard Nasional menuju normal baru. Sejumlah mal atau pusat belanja di DKI Jakarta rencananya juga akan kembali beroperasi dengan kondisi normal baru pada 5 dan 8 Juni 2020.

“Kalau mall (pusat perbelanjaan) terutama di Jakarta sudah buka, pengunjung kedai kopi di mall harus jaga jarak kan. Dulu, (sebelum covid-19) konsumen kopi bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Starbucks. Tapi sekarang, mereka pasti dibatasi dan harus jaga jarak. Kalau kapasitas (sebelum covid-19) misalkan 20 orang, sekarang mungkin hanya 10 orang. Saya yakin, ada tren orang beralih menikmati kopi di rumah dan meracik sendiri dengan seni masing-masing. Bahkan ada tren (gaya hidup), memadukan kopi dengan herbal Indonesia, terutama wedang uwuh. Twind (perusahaan/produsen kopi Indonesia) kan terus membina pengrajin/petani wedang uwuh di Jawa Tengah terutama kabupaten Batang, Karanganyar, Boyolagi. Wedang uwuh terdiri dari jahe merah, rempah-rempat berkhasiat untuk kesehatan. Permintaan terutama dari China, Taiwan terus meningkat. Harga awalnya Rp 100.000 (serratus ribu) per kilo, sekarang sudah meningkat dua kali lipat, Rp 200.000 (dua ratus ribu) per kilo. Kami sudah familiar dengan para petani di tiga kabupaten tersebut, sehingga kami bisa dapat stock,” kata Stephen Lo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *