Tambak Udang Berkelanjutan di Parigi Moutong Sulteng Dorong Kolaborasi

Lintas Bisnis.com Jakarta – Kolaborasi masyarakat dengan pengusaha, khususnya sektor budidaya udang di kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah terbentuk secara spontanitas, terutama pendampingan bisnis dalam upaya meningkatkan taraf hidup serta kualitas SDM (Sumber Daya Manusia ).

Sehingga Pemerintah Pusat berharap provinsi lain termasuk yang bertetanggaan dengan Sulteng bisa mengikuti pembentukan kolaborasi dengan pola yang sama.

“Kami berharap, peletakan batu pertama PT Parigi Aquakultura Prima ( Tambak Udang Berkelanjutan ) menjadi penyemangat bagi provinsi lain,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Edhy Prabowo pada selebrasi pembangunan tambak udang beserta sarana prasarananya di Parigi Moutong beberapa hari yang lalu.

MKP Edhy Prabowo didampingi oleh empat direktur jenderal (dirjen) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ke-empat dirjen tersebut yakni Dirjen PRL Aryo Hanggono, Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Tangkap M. Zulficar, Dirjen PSDKP TB Haeru .

Selebrasi ini diharapkan bisa semakin mendorong sektor perikanan budidaya khususnya vaname. Potensi beberapa daerah termasuk Sulteng, Provinsi Gorontalo sudah tidak diragukan lagi untuk pengembangan budidaya udang.

Selain luas lahan yang masih melimpah, Pemerintah Pusat melalui KKP juga memfasilitasi masyarakat, khususnya petambak udang dengan modal kerja.

“( PT Parigi Aquakultura Prima) jelas ada manfaat untuk masyarakat di seputar lokasi tambak udang. Selain membuka lapangan pekerjaan, masyarakat yang memiliki tambak sendiri bisa produktif. Tambak-tambak yang sudah ada jangan sampai tidak produktif,” tegas Edhy Prabowo.

Hal ini diamini oleh Gubernur Sulteng, Longki Djanggola yang hadir pada acara selebrasi bersama pejabat lainnya, termasuk Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, anggota Komisi VIII DPR RI, direktur-direktur jenderal (Dirjen) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu.

“Tadinya kami berharap pak Rudy Hartanto Wibowo (direktur PT Parigi Aquakultura Prima) bisa menjadi bapak angkat (untuk petambak). ternyata, dalam pembentukan (usaha budidaya udang di Parigi Moutong) ini berlangsung spontanitas. (peran serta, pendampingan Rudy Hartanto Wibowo sudah terlihat langsung di dalamnya (usaha budidaya udang),” tegas Longki.

Udang vaname hasil petambak tradisional merupakan komoditas potensial di Parigi Moutong dengan jumlah produksi per tahun sekitar 4.885 ton dari luas lahan produksi 7.189 hektar. Tambak-tambak tradisional secara perlahan mulai beralih pada penggunaan teknologi intensifikasi. Dua perusahaan yang bergelut di bidang budidaya perikanan, termasuk PT Parigi Aquakultura dengan teknologi intensifikasi, optimis memproduksi udang vaname 25 – 30 ton per hektar, per siklus panen.

“Usaha tambak udang berkelanjutan disini (Parigi Moutong), setelah peletakan batu pertama (MKP Edhy Prabowo), dan arahan Bapak Presiden (Presiden Joko Widodo) berharap tambak-tambak udang yang sudah ada bisa optimal produktif. Ini komitmen. Perlu juga diketahui, lahan tambak (PT Parigi Aquakultura Prima) mencapai 250 hektar. Ini bukan milik pak Rudy Hartanto, tapi lahan milik masyarakat. Kolaborasi masyarakat dengan Rudy menjadi model kemitraan yang patut dicontoh. Ini luar biasa,” tegas Longki.

Di tempat yang sama, Rudy meyakini bahwa pelaku usaha perikanan berkepentingan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lahan usaha. Dalam hal ini, PT Parigi Aquakultura Prima juga yakin bahwa taraf hidup masyarakat bisa meningkat seiring dengan keberhasilan pengelolaan tambak.

“(estimasi) rentang waktu 10 tahun ke depan, masyarakat sudah bisa beralih pada intensifikasi.  Rentang waktu 10 tahun, kami sudah bisa lepas. Sebagian aset dihibahkan karena kami sudah mendapat keuntungan,” kata Direktur perusahaan udang PT Parigi Aquakultura Prima Rudy Hartanto Wibowo. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *