GPOT dengan Pengairan Tingkatkan MT, Surplus Petani

Lintas Bisnis.com Jakarta – Pasokan air untuk lahan pertanian menentukan efektivitas Gerakan Percepatan Olah Tanam (GPOT) di berbagai daerah, termasuk kabupaten Pandeglang Banten sehingga musim tanam (MT) bisa terealisasi sampai ketiga atau MT-3. Sepanjang daerah persawahan harus dibarengi dengan ketersediaan sumber air, petani pasti menikmati surplus penanaman melalui GPOT.

“Biasanya hanya dua kali MT. Tapi kami terus berinovasi termasuk dengan GPOT. Kami yakin, ke depannya tercapai MT Tiga,” kata Kepala dinas pertanian pemerintah kabupaten Pandeglang Banten Budi Januari mengatakan kepada Redaksi, Sabtu (8/8).

Permasalahan sektor pertanian, salah satunya sumber air untuk mengairi persawahan. Seperti yang terjadi di lahan-lahan pertanian Cikeusik Pandeglang, ada permasalahan pada bendungan Cibaliung. Sehingga petani tidak bisa mengandalkan pasokan air dari bendungan Cibaliung.

“Kami turunkan pompa air di lokasi persawahan Cikeusik, menyedot air dari sungai. Pemerintah pusat juga sempat bantu untuk pasokan solar sebagai bahan bakar pompa air. Tapi kalau pemerintah pusat bisa memperbaiki bendungan Cibaliung, MT Tiga semakin mudah tercapai. Produksi terutama gabah petani meningkat,” tegas Budi Januardi.

Di tempat berbeda, produsen nutrisi tanaman dan tanah pertanian, PT Menara Dwikarya Prima memasok kepada petani di Pandeglang pada Agustus – September 2019. Pada saat itu, MT Dua sudah berakhir. Sebagian besar, petani di Pandeglang khususnya Cikeusik menanam padi sampai MT Dua.

“Pada MT Tiga, petani beralih pada hortikultura seperti timun, kacang panjang, semangka. Nutrisi kami, AM-POWER ternyata berhasil meningkatkan produksi pada MT Tiga, khususnya untuk semangka,” kata Budi Haryanto dari PT Menara Dwikarya Prima.

Pada Desember 2019, ia pun sudah mulai membantu petani dengan biostimulant atau nutrisi pada MT Satu. Bulan Desember adalah musim hujan pertama. Ketika mengobservasi, ada daerah yang potensial untuk penanaman. PT Menara Dwikarya pun bersama petani membuka demplot (contoh pertanian).

“Ternyata hasilnya bagus, produksi meningkat. Kebetulan, pak Haji Maya (pemilik lahan persawahan beberapa hektar di Cikeusik) berpikir progresif dan cara kerjanya bagus,” ujar Budi Haryanto.
 

Sebagai pemilik lahan sawah, Haji Maya terus berinovasi meningkatkan kesejahteraan petani. Ia berhasil membuka kios perlengkapan pertanian, termasuk pestisida, fungisida. Ketika awal penjajakan kerjasama dengan PT Menara Dwikarya, yakni pembuatan demplot, Haji Maya memanfaatkan biostimulant AM-POWER. Uji coba pada tanaman terong yang sudah expired, ternyata bisa tumbuh dengan biostimulant. Kondisi sekarang (Maret – Agustus 2020), pertanian Haji Maya di Cikeusik mencapai 7,7 ton/hektar dari yang sebelumnya rata-rata 6,7 ton pada masa tanam MT Dua.

“Kalau ada peluang kerjasama dengan investor lain, misalkan rencana budidaya porang, PT Menara Dwikarya terbuka. Tahap awal dari kerjasama, (yakni) pembuatan demplot terlebih dahulu sampai investor yakin,” tegas Budi Haryanto. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *