UMKM Pangan Alternatif Relevan di Tengah Pandemi

Lintas Bisnis.com Jakarta – Menyambut era baru yaitu new normal, dan antisipasi terhadap krisis pangan, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di bidang makanan, minuman (mamin) harus diarahkan pada makanan alternative terutama roti. Pasar UMKM mamin terbuka, tapi masih banyak yang memilih kategori secondary seperti kopi, kue-kue dan lain sebagainya.

“Yang lebih penting di tengah pandemic covid, (usaha mamin) berupa makanan pokok termasuk tepung terigu roti. Konsumen bisa merasa lebih kenyang makan roti, mie ketimbang kopi, kue-kue atau jenis dessert,” ujar pelaku usaha industry makanan, PT Guataka, Vera Umbara di Jakarta,Minggu (13/9).

Selain itu, program diversifikasi pangan memungkinkan masyarakat beralih secara perlahan dari nasi ke sumber lain termasuk jagung, ubi jalan dan lain sebagainya. Hal ini relevan dengan upaya menjaga ketersediaan pangan. Laju pertumbuhan pendudukan dan ketersediaan pangan harus seimbang, dan tidak boleh timpang. Pengukuran ketersediaan pangan harus dengan kajian dari pemerintah dan stakeholders industry mamin.

“Sampai pada sektor pertaniannya, perlu pengukuran sampai sejauh mana panen mencukupi kebutuhan dan tersebar merata. Ketersediaan pangan yang lebih kecil dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidak-stabilan ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika ketahanan pangan terganggu,” kata Vera.

Di tempat berbeda, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Banten meyakini bahwa komoditas pertanian talas beneng sebagai pakan alternative dan sudah merambah pasar ekspor terutama Belanda, Australia. Kendatipun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang juga masih terus berupaya mencari investor untuk peningkatan budidaya talas beneng tersebut.

“Panen dari penanaman untuk umbinya (talas beneng) hanya dalam kurun waktu delapan bulan. Permintaan pasar tinggi, tapi kami belum bisa penuhi. Pemerintah sudah bentuk asosiasi pelaku usaha talas beneng untuk penjajakan kerjasama dengan swasta. Talas ini bisa menjadi pangan alternatif,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Pandeglang, Budi Januardi.

Talas ini bisa tumbuh di bawah tegakan atau di bawah-bawah pohon. Pemanfaatan tanah kosong di bawah pohon dengan penanaman tals beneng. Lahan menjadi produktif, sehingga talas beneng ini awalnya dinamakan tanaman liar. Tetapi karena masyarakat dan pembudidaya semakin melihat manfaatnya, bernilai ekonomi tinggi, istilah ‘tanaman liar’ berubah menjadi talas beneng.

“Tanaman lain tergantung musim. Tapi talas, setiap waktu bisa dipanen. Lahan marginal bisa dimanfaatkan karena bisa bersinergi dengan komoditas strategis lain. Tingkat konsumsi Indonesia terhadap beras masih sangat tinggi. Sehingga talas beneng menjadia jawaban untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Bupati juga sudah mengajukan ke Kementerian Pertanian untuk sertifikat varietas untuk pelepasannya. TDV (tanda daftar varietas) sudah selesai,” kata Budi Januardi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *