LINTAS BISNIS – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pemerintah terus berupaya menekan dampak kenaikan tarif penerbangan agar tidak membebani masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan AHY saat menghadiri kegiatan bakti sosial di Gereja Katolik Santo Andreas, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (12/4/2026).
“Tentunya kita terus mengelola agar tidak ada dampak yang terlalu buruk bagi masyarakat,” ujar AHY.
Kenaikan harga tiket pesawat saat ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar avtur, yang terdampak konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi tersebut turut berdampak pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi energi global.
Menurut AHY, meskipun konflik terjadi di kawasan Timur Tengah, dampaknya dirasakan secara luas, termasuk Indonesia.
“Kita waspada terkait dengan energi. Walaupun itu terjadi di belahan dunia lain, tetapi apa yang terjadi di Timur Tengah, perang Iran dan situasi di Selat Hormuz tentunya perlu kita antisipasi,” jelasnya.
Pemerintah, lanjut AHY, berupaya maksimal menjaga agar masyarakat tidak terlalu terdampak, khususnya pada sektor transportasi, baik udara, laut, maupun darat.
“Kami pemerintah berusaha sekuat tenaga agar masyarakat juga tidak terlalu terdampak, termasuk di biaya transportasi di lautan maupun di darat,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyetujui penyesuaian harga tiket pesawat seiring melonjaknya harga avtur global.
Airlangga mengungkapkan, harga avtur di sejumlah negara mengalami kenaikan signifikan, seperti di Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina sebesar Rp25.326 per liter. Sementara di Indonesia, per 1 April 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta tercatat sebesar Rp23.551 per liter.
Ia menekankan bahwa komponen bahan bakar memiliki peran krusial dalam operasional maskapai, dengan kontribusi sekitar 40 persen dari total biaya.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan situasi global guna mengambil langkah antisipatif demi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.






