LINTAS BISNIS – Daewoong Pharmaceutical melalui anak usahanya di Indonesia resmi mengumumkan bahwa obat inovatif Fexuprazan 40 mg telah memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat ini diindikasikan untuk pengobatan Esofagitis Erosif, salah satu komplikasi dari Gastroesophageal Reflux Disease.
Peluncuran ini menandai hadirnya alternatif terapi baru di tengah dominasi obat golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) yang selama ini menjadi lini pertama pengobatan GERD. Meski efektif, PPI diketahui memiliki sejumlah keterbatasan, seperti onset kerja yang relatif lambat dan ketergantungan pada waktu konsumsi sebelum makan.
Fexuprazan hadir dengan mekanisme Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB), yakni generasi baru penghambat asam lambung yang bekerja langsung tanpa memerlukan aktivasi oleh asam. Mekanisme ini memungkinkan obat memberikan efek lebih cepat sejak dosis pertama serta kontrol asam lambung yang lebih stabil sepanjang hari, termasuk pada malam hari.
Selain itu, Fexuprazan memiliki ketergantungan rendah terhadap enzim metabolisme hati, sehingga berpotensi meminimalkan interaksi obat dan memberikan respons terapi yang lebih konsisten antar pasien. Obat ini juga dapat dikonsumsi tanpa terikat waktu makan, sehingga dinilai lebih praktis bagi pasien.
Dalam uji klinis yang melibatkan 134 pasien GERD di tiga rumah sakit di Jakarta, Fexuprazan 40 mg menunjukkan efektivitas yang setara dengan Esomeprazole 40 mg, bahkan unggul dalam kecepatan meredakan gejala dan peningkatan kualitas hidup pasien.
Perwakilan Daewoong menyatakan bahwa persetujuan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas akses terapi inovatif di Indonesia. Perusahaan juga berencana melanjutkan penelitian klinis serta kolaborasi dengan tenaga medis lokal guna memperkuat basis ilmiah penggunaan obat ini di dalam negeri.
Dengan populasi besar dan tren peningkatan kasus gangguan lambung, Indonesia dinilai sebagai pasar penting bagi pengembangan terapi saluran cerna. Data industri menunjukkan nilai pasar obat antiulkus nasional mencapai sekitar Rp2,4 triliun pada 2024 dan diproyeksikan terus tumbuh.
Secara global, Fexuprazan telah dipasarkan di puluhan negara dan mendapatkan persetujuan di berbagai wilayah, termasuk Asia. Kehadirannya di Indonesia diharapkan dapat memberikan pilihan terapi yang lebih efektif dan nyaman bagi pasien GERD.





