LINTAS BISNIS – Pasar kripto kembali menguat pada perdagangan Kamis (12/3/2026) pagi. Harga Bitcoin (BTC) naik lagi ke atas US$ 70.000, didorong sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai dengan ekspektasi pasar serta penguatan sejumlah aset kripto utama.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB, kapitalisasi pasar kripto global menguat 0,88% menjadi US$ 2,4 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini melesat 0,66% ke US$ 70.391 per koin atau sekitar Rp 1,18 miliar (kurs Rp 16.892).
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar terkerek 0,53%. Dengan Ethereum menanjak 1,24% ke US$ 2.059, Binance (BNB) naik 1,6% ke US$ 652, XRP menguat 0,09% ke US$ 1,38, dan Solana (SOL) melejit 1,34% ke US$ 86. Sedangkan Dogecoin (DOGE) malah turun 1,55% ke US$ 0,09.
Dikutip dari CoinDesk, harga bitcoin kembali menguat pada perdagangan Rabu (11/3/2026) setelah sempat melemah pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi seiring rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai dengan perkiraan pasar.
Berdasarkan data pasar kripto, harga Bitcoin sempat turun ke kisaran US$ 69.000 pada perdagangan kemarin pagi di AS. Namun tak lama kemudian, aset kripto terbesar di dunia tersebut berbalik menguat hingga menembus US$ 70.000 dan mendekati level US$ 71.000.
Penguatan serupa juga terjadi pada sejumlah aset kripto utama lainnya, seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan XRP, yang sama-sama mencatat kenaikan tajam dalam waktu singkat.
Di sisi lain, pasar juga mencermati rilis data inflasi AS terbaru. Laporan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) menunjukkan inflasi Februari naik 0,3% secara bulanan, sesuai dengan perkiraan ekonom.
Secara tahunan, tingkat inflasi tercatat sebesar 2,4%. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pelaku pasar kini hampir sepenuhnya menghapus peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Maret maupun April.
Head of Macro di 21Shares, Stephen Coltman, mengatakan keputusan bank sentral AS dalam beberapa waktu ke depan akan sangat menentukan arah pasar. Menurut dia, investor akan mencermati pertemuan The Fed pekan depan untuk melihat bagaimana respons otoritas moneter terhadap dampak ekonomi dari konflik AS-Iran.
“Investor akan mengamati dengan cermat bagaimana The Fed merespons situasi ini, apakah melihatnya sebagai guncangan sementara atau justru mengambil sikap yang lebih hawkish,” ujarnya.
Advertisement
Meski demikian, Coltman menilai potensi kenaikan inflasi pada data bulan depan kemungkinan besar sudah diperhitungkan oleh pasar kripto, termasuk oleh Bitcoin.






