LINTAS BISNIS – Banyaknya kasus-kasus amoral maupun kriminal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia salah satu penyebabnya adalah karena jauhnya masyarakat dari agama. Di negeri yang mayoritas Islam ini, menurut pendiri PPA Institute Rezha Rendy, maka Al Qur’an harus menjadi panduan dalam menjalani hidup agar tidak terjerumus ke dalam perilaku buruk yang tidak saja merugikan diri sendiri tapi juga lingkungan.
“Selama ini kita memperlakukan Al Qur’an sebatas untuk dibaca dan mendapat pahala. Tentu ini baik, namun bukan itu saja tujuan kitab suci ini diturunkan, melainkan juga sebagai petunjuk, panduan hidup, dan referensi sebelum melakukan sesuatu,” tuturnya dalam sebuah webinar Powerful Qur’an pada Jumat (4/8) pagi.
Menurut Rendy, fungsi Al Qur’an ada beberapa tingkatan. Pertama, sebagai cermin untuk melihat kekurangan diri sendiri. Ada tindakan-tindakan yang sering dilakukan seseorang yang ternyata bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain.
“Pada tingkatan kedua, Al Qur’an dijadikan rujukan dalam melakukan sesuatu. Misalnya, bagaimana cara memimpin tim, itu ada di Al Qur’an. Bagaimana cara mendidik anak, mengelola harta, mengajar murid, berdagang dan lain sebagainya. Kita mulai melihat apakah yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sama dengan apa yang diajarkan Al Qur’an atau tidak.”
Pada tingkat puncak, tambah Rendy, seseorang sudah sampai pada level menyesuaikan diri dengan apa yang diajarkan Al Qur’an.
“Dia mengkalibrasi diri dengan apa yang diajarkan di dalam Qur’an, mulai dari cara tidur, cara makan, cara berkeluarga, cara memimpin dan lain-lain. Pada titik inilah keajaiban itu sering muncul.”
Rendy mencontohkan bagaimana umumnya kaum muslim memperlakukan Al Qur’an.
“Umroh, contohnya. Ini adalah kegiatan yang dapat pahala. Namun pas pulang umroh, masih tetap ghibah, merendahkan orang lain, mencela sehingga orang lain merasa tidak nyaman. Ini bukti bahwa kita sebatas baca ayat tentang keutamaan umroh, tapi tidak menghidupkan ayat tentang akhlak.”
Berangkat dari realitas tersebut, PPA Institute sebagai lembaga pendidikan berbasis Al Qur’an kembali membuka Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ) Batch 6 yang secara intens selama tujuh hari secara daring. Bentuk pengajarannya berupa paparan ayat di pagi hari yang harus dipraktekkan dalam satu hari tersebut, lalu peserta akan berbagi pengalaman di malam harinya.
“Kalau ada satu ayat saja dari Al Qur’an yang kita tabrak, efeknya hidup kita bisa berantakan. Misalnya ada yang menabrak larangan Al Qur’an tentang menundukkan pandangan. Hanya karena hal kecil seperti ini, memandang seorang perempuan yang bukan muhrim, berlanjut sampai melihat video-video yang mengundang hawa nafsu, berlanjut mengunduh aplikasi kencan, sampai akhirnya mengajak perempuan menginap di hotel.”
Akhirnya, tutur Rendy, istri menuntut cerai, bisnisnya berantakan, dan anak-anaknya menjadi produk broken home.
“Sebaliknya, satu ayat saja dari Al Qur’an yang kita jalankan, itu bisa merubah hidup kita. Itulah powerfulnya Al Qur’an.”
Sejauh ini, EMPQ telah memiliki 1200 alumni yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
“Banyak testimoni-testimoni yang masuk kepada kami dari para alumni. Ada yang sembuh dari sakit dengan fungsi jantung sisa 25 persen, dapat beasiswa pendidikan, dan bahkan ada yang mendapat rumah. Semuai ini merupakan hadiah dari Allah atas komitmen kita menghidupkan ayat-ayat Al Qur’an.”
Dalam webinar tersebut, hadir pula Jefri Taufik, salah satu alumni EMPQ Batch 5 dari Jambi.
“Alhamdulillah setelah praktek satu ayat tentang silaturahim, pipa-pipa rezeki mengalir ke dalam hidup saya. Lalu pada hari kedua, saya dapat tawaran kerjasama bisnis dari teman komunitas untuk skill yang saya kuasai,” ungkapnya.
Training EMPQ akan berlangsung mulai 10 Agustus dan pendaftaran telah dibuka mulai hari ini.



