Home / Bisnis / Harga Emas Dunia Melemah, Dolar AS Menguat dan Pasar Tunggu Keputusan Trump soal Iran

Harga Emas Dunia Melemah, Dolar AS Menguat dan Pasar Tunggu Keputusan Trump soal Iran

LINTAS BISNIS – Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin (1/6/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak dunia. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.

Pada perdagangan hari ini, harga emas spot tercatat turun 0,43% menjadi US$ 4.519,9 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS terkoreksi lebih dalam, yakni 0,95% ke level US$ 4.549,12 per ons troi.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan logam mulia. Ketika nilai tukar dolar menguat, emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global.

Selain faktor mata uang, perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan AS dan Iran. Trump sebelumnya menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait proposal perpanjangan gencatan senjata yang tengah dibahas kedua negara. Namun, hingga saat ini masih terdapat sejumlah perbedaan pandangan dalam isu-isu strategis yang menjadi pembahasan.

Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukan untuk memperluas operasi militer di wilayah Lebanon dalam upaya menghadapi Hezbollah yang didukung Iran.

Kenaikan harga minyak lebih dari 2% pada perdagangan Senin turut menambah kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memperkuat tekanan harga di berbagai sektor ekonomi.

Pejabat Federal Reserve juga memberikan sinyal bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian utama. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menyatakan bahwa dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian masih terus dievaluasi, namun berpotensi membuat inflasi bertahan pada level yang tinggi sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pandangan serupa disampaikan oleh Anna Paulson yang menilai kebijakan moneter saat ini masih berada pada level yang cukup ketat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Di pasar fisik, permintaan emas di India masih terpantau lemah akibat tingginya harga serta bea masuk yang berlaku. Sementara di China, premi emas menyempit karena investor cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski demikian, data terbaru menunjukkan sentimen investor terhadap emas belum sepenuhnya surut. Spekulan tercatat menambah posisi beli bersih (net long) sebanyak 2.544 kontrak menjadi 96.931 kontrak pada pekan yang berakhir 26 Mei 2026, menandakan masih adanya keyakinan terhadap prospek emas sebagai aset lindung nilai di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *