LINTAS BISNIS – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Berdasarkan data pasar spot yang dirilis oleh Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah 79,50 poin atau 0,44 persen ke posisi Rp18.115 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,02 persen ke level 100,091.
Penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih solid. Data tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini.
Tidak hanya rupiah yang tertekan.
Sejumlah mata uang utama dunia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Yen Jepang turun ke level terendah sejak Juli 2024 di kisaran 160,725 per dolar AS.
Sementara itu, euro merosot ke posisi terendah dalam dua bulan di level US$1,1507 per dolar AS.
Poundsterling Inggris juga tidak luput dari tekanan. Mata uang tersebut menyentuh level terendah dalam tiga minggu terakhir di posisi US$1,33165 per dolar AS.
Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics, Jonas Goltermann, mengatakan laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS meskipun tekanan dari kenaikan harga energi masih berlangsung.
“Laporan penggajian AS menggambarkan pasar tenaga kerja yang tetap menguat meskipun terjadi guncangan harga energi yang berlanjut,” ujarnya.
Menurut Goltermann, kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan harga energi membuat peluang pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed semakin besar. Pihaknya kini memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena investor cenderung kembali menempatkan dana mereka pada aset-aset berbasis dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan dianggap lebih aman.






