Home / News / Perpusnas Luncurkan Buku Seabad Setahun Asrul Sani, Dokumentasikan Warisan Intelektual Tokoh Kebudayaan Indonesia

Perpusnas Luncurkan Buku Seabad Setahun Asrul Sani, Dokumentasikan Warisan Intelektual Tokoh Kebudayaan Indonesia

LINTAS BISNIS – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) meluncurkan buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Peluncuran buku yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Asrul Sani dalam Dinamika Budaya Indonesia tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Seabad Setahun Asrul Sani.

Buku yang terdiri atas dua jilid dengan total 1.784 halaman itu menjadi salah satu dokumentasi paling komprehensif mengenai pemikiran, karya, serta pengaruh Asrul Sani dalam perkembangan sastra, perfilman, teater, dan kebudayaan Indonesia. Karya tersebut memuat 86 tulisan yang ditulis oleh 141 kontributor dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, budayawan, sastrawan, sineas, birokrat, peneliti, sahabat, hingga keluarga Asrul Sani.

Penerbitan buku ini merupakan upaya kolektif untuk merekam sekaligus mewariskan gagasan, pemikiran, dan jejak intelektual salah satu tokoh penting kebudayaan Indonesia. Melalui dokumentasi yang komprehensif, buku tersebut diharapkan dapat menjadi sumber rujukan bagi masyarakat, peneliti, mahasiswa, dan generasi muda dalam memahami perjalanan pemikiran serta karya Asrul Sani lintas bidang.

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, Pelaku Sanggar Pelakon, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang kebudayaan. Selain menjadi ruang refleksi atas kontribusi Asrul Sani, kegiatan tersebut juga memperkuat upaya pelestarian memori kolektif bangsa melalui dokumentasi, kajian, dan diseminasi pengetahuan kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan bahwa kolaborasi dengan HISKI, Pelaku Sanggar Pelakon, dan Kementerian Kebudayaan merupakan bagian dari pelaksanaan tugas Perpusnas untuk meningkatkan kecakapan literasi masyarakat.
Menurut Aminudin, perpustakaan tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat penyimpanan buku. Ia menegaskan bahwa perpustakaan harus menjadi wahana pengembangan kreativitas yang mampu menghadirkan ruang belajar, berkarya, dan berinteraksi bagi masyarakat.

“Saya selalu mengatakan bahwa perpustakaan jangan hanya dianggap sebagai tempat untuk menyimpan buku. Kami ingin mengubah persepsi itu dengan menghadirkan perpustakaan sebagai wahana pengembangan kreativitas,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan bukanlah pekerjaan mudah karena stigma lama masih cukup kuat. Namun, keberadaan gedung layanan Perpusnas yang modern dan terbuka dinilai menjadi peluang untuk menghadirkan wajah baru perpustakaan sebagai pusat aktivitas intelektual masyarakat.

Aminudin menambahkan bahwa perpustakaan tidak hanya bertugas menghimpun dan melestarikan koleksi, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran, gagasan, dan karya para tokoh bangsa melalui berbagai program literasi, pameran, diskusi, penelitian, serta publikasi.

Dalam kesempatan tersebut, Aminudin juga menyoroti sosok Asrul Sani yang dinilainya memiliki integritas intelektual dan keberanian budaya. Menurutnya, Asrul Sani merupakan figur yang tidak pernah nyaman ketika berhadapan dengan situasi yang bertentangan dengan kata hati maupun nilai-nilai yang diyakininya.

Ia menyinggung peran Asrul Sani dalam lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia modern.

“Ketika muncul Surat Kepercayaan Gelanggang, ini sebagai bentuk manifesto pandangan kebudayaan Indonesia yang terbuka terhadap warisan budaya dunia namun tetap dijalankan dengan cara Indonesia sendiri,” ungkapnya.

Menurut Aminudin, ketekunan dan totalitas Asrul Sani dalam berkarya menjadi teladan bagi generasi muda. Dari berbagai arsip dan dokumentasi yang dipamerkan, terlihat bagaimana setiap karya dipersiapkan dengan kesungguhan dan dedikasi tinggi.

Selain itu, Asrul Sani juga dinilai memiliki kepekaan dalam membaca realitas sosial masyarakat. Kemampuannya memilih tema dan isu yang dekat dengan kehidupan publik membuat karya-karyanya tetap relevan untuk dibaca, ditonton, dan didiskusikan hingga saat ini.

Salah satu contohnya terlihat pada tokoh Nagabonar yang digambarkan sebagai seorang pencopet namun dapat tampil sebagai pahlawan. Menurut Aminudin, hal tersebut menunjukkan kemampuan Asrul Sani dalam memahami kompleksitas manusia dan dinamika sosial secara mendalam.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengenang Asrul Sani sebagai sosok monumental dalam dunia seni dan dakwah Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan melalui rekaman video yang ditayangkan pada acara peluncuran buku dan seminar nasional.

“Siapapun yang mencintai kebudayaan dan seni pasti akan mengenang nama besar seorang Asrul Sani. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa beliau itu the real mubaligh,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, dakwah yang dilakukan Asrul Sani tidak berlangsung melalui pendekatan konvensional seperti khutbah atau ceramah. Sebaliknya, ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui karya seni yang mampu menjangkau masyarakat luas.

Ia menilai karya-karya Asrul Sani berhasil menyentuh aspek intelektualitas, spiritualitas, dan realitas kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan kebudayaan, nilai-nilai agama dan kebangsaan dapat disampaikan secara lebih membumi dan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang majemuk.

Menjembatani Modernitas dan Tradisi Islam
Dalam seminar nasional tersebut, sastrawan Jamal D. Rahman menyoroti posisi Asrul Sani sebagai figur yang menjembatani kebudayaan modern Indonesia dengan tradisionalisme Islam, khususnya melalui kiprahnya di Nahdlatul Ulama dan Lembaga Seniman Budaya Muslimin Indonesia.
Menurut Jamal, aspek tersebut masih jarang dibahas dalam kajian kebudayaan Indonesia modern.

“Asrul Sani menjadi ironi dalam sejarah intelektual Indonesia karena kiprahnya di NU jarang dibicarakan dalam wacana kebudayaan modern,” katanya.

Pandangan lain disampaikan oleh penulis dan budayawan Seno Gumira Ajidarma yang mengulas skenario film karya Asrul Sani, khususnya Apa yang Kau Cari, Palupi?.

Menurut Seno, film tersebut menghadirkan gambaran mengenai dilema perempuan dalam cinta dan pencarian eksistensi di tengah perubahan sosial Indonesia pasca-1965. Ia juga menilai Asrul Sani bekerja sangat detail dalam penulisan skenario dan menghadirkan inovasi melalui konsep “film dalam film” yang kaya lapisan makna.
Warisan Pemikiran Lintas Generasi
Ketua Umum HISKI Novi Anoegrajekti menegaskan bahwa buku yang diluncurkan tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga menjadi sarana pewarisan pemikiran lintas generasi.

Menurutnya, keterlibatan ratusan kontributor dalam proses penulisan menunjukkan besarnya perhatian berbagai kalangan terhadap pemikiran dan karya Asrul Sani.

“Penulisan buku ini menjadi salah satu unggulan karena berpotensi menjadi jejak abadi kebersamaan, penyimpanan, dan pewarisan pemikiran lintas generasi,” ujarnya.

Selain peluncuran buku dan seminar nasional, rangkaian peringatan Seabad Setahun Asrul Sani juga mencakup pameran Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani, dialog budaya, pemutaran film karya Asrul Sani, serta berbagai kegiatan apresiasi budaya lainnya yang berlangsung di Perpusnas.

Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan tersebut, Perpusnas menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perpustakaan sebagai ruang pelestarian memori bangsa, pengembangan literasi budaya, dan pewarisan pengetahuan lintas generasi.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik, khususnya generasi muda, terhadap warisan intelektual Asrul Sani yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sastra, perfilman, teater, dan kebudayaan Indonesia.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *