LINTAS BISNIS – Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, mengajak mahasiswa peserta KKN Tematik Literasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Tahun 2026 untuk berperan aktif dalam meningkatkan budaya baca masyarakat. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan Pembekalan Mahasiswa KKN Tematik Literasi Unpad yang digelar di Bale Sawala Kampus Unpad, Jatinangor, Jumat (12/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perpusnas menyoroti masih rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia yang ditandai dengan minimnya kebiasaan membaca. Berdasarkan data CEOWORLD Magazine, rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyelesaikan sekitar 5,91 buku per tahun dan menghabiskan 129 jam untuk membaca dalam setahun.
“Nah ini persoalannya bukan ada pada orang lain tetapi juga ada pada diri kita sendiri. Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan harus menjadikan membaca sebagai bagian penting dalam kehidupan intelektual,” ungkapnya.
Ia memaparkan, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) masih tergolong rendah dengan rata-rata kabupaten/kota mencapai 10,37 dan tingkat provinsi 29,36. Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional berada di angka sekitar 54,8.”Angka ini ternyata menjadi persoalan besar yang harus dihadapi, apalagi kaitannya dengan Indonesia Emas 2045,” paparnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, lanjutnya, Perpusnas memiliki empat program utama. Pertama, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS). Melalui program ini masyarakat diajak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di perpustakaan.
“Ibu-ibu diajak berkegiatan di perpustakaan, mengikuti pelatihan dan menghasilkan suatu makanan maupun kerajinan yang kemudian bisa dijual. Sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.
Kedua, Program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang merupakan program inisiasi Perpusnas. Relima sebagai bentuk komitmen dalam membangkitkan budaya baca dan meningkatkan literasi. Tujuannya, mengkoordinasikan gerakan literasi agar tidak berjalan sporadis, melainkan dalam satu arah dan semangat bersama.
Ketiga, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi, yang sudah dimulai pada tahun 2025. Pada tahun 2026, dilaksanakan di 23 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya Unpad.
Program ini melibatkan mahasiswa untuk terjun langsung ke desa-desa dan membantu mengembangkan budaya literasi masyarakat. Tahun ini, ditargetkan menjangkau sekitar 1.000 lokus di berbagai daerah dengan melibatkan 10 hingga 15 mahasiswa di tiap desa.
“Kami berharap ada sekitar 10.000 hingga 15.000 mahasiswa yang bergerak bersama masyarakat untuk mengatasi persoalan literasi di desa,” katanya.
Program lainnya, Perpusnas telah menyalurkan bantuan buku ke berbagai wilayah. Setiap desa, kelurahan, dan taman baca masyarakat menerima sekitar 1.000 buku. Selain itu, bantuan buku juga diberikan kepada puskesmas dan lembaga pemasyarakatan untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
“Mahasiswa KKN Tematik Literasi ini nantinya akan mengoptimalkan Koleksi buku yang telah tersedia melalui berbagai kegiatan. Misalnya, membaca bersama, membaca nyaring, membuat resensi buku, dan program kreatif lainnya yang mendorong budaya literasi,” lanjutnya.
Kepala Perpusnas menilai, kreativitas mahasiswa diperlukan sebagai modal penting. Berdasarkan pengalaman pemantauan di berbagai daerah, mahasiswa dinilai mampu membangun kedekatan dengan masyarakat dan menciptakan kegiatan yang lebih inovatif serta berkelanjutan.
“Saya mendorong dan mengajak para mahasiswa untuk jangan lelah bekerja, semoga niat para mahasiswa membangun kecakapan literasi dapat menjadi modal untuk pembangunan bangsa ini,” imbuhnya.
Lokasi KKN Tematik Literasi Unpad tersebar di 74 desa. Di desa-desa tersebut terdapat 21 perpustakaan desa/kelurahan serta 53 Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Sementara itu, Direktur Pendidikan Non Gelar Unpad, Erli Sarlita menjelaskan, KKN Unpad akan dilaksanakan pada 10 Juli hingga 11 Agustus 2026, dengan jumlah peserta sebanyak 1.555 mahasiswa.
Mahasiswa diterjunkan selama satu bulan ke empat kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut.
“Mahasiswa akan berkontribusi dalam tiga program utama, seperti penanganan kemiskinan, pengolahan sampah serta literasi informasi yang didukung Perpusnas,” jelasnya.
Erli berharap mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian pembekalan dengan sungguh-sungguh karena terdapat banyak pengetahuan dan keterampilan yang perlu dikuasai sebelum terjun ke lapangan.
“Selama menjalani KKN dalam satu bulan, mahasiswa diharapkan belajar langsung dari masyarakat dan memperoleh berbagai keterampilan non akademik (soft skills), seperti komunikasi, kerja sama,





