LINTAS BISNIS – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat telah mengubah cara masyarakat memperoleh, mengelola, memproduksi, dan memanfaatkan informasi. Di tengah perubahan tersebut, penguatan budaya informasi dinilai menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), organisasi profesi yang menjadi wadah kolaborasi, pengembangan, dan pertukaran pengetahuan di bidang perpustakaan digital Indonesia, serta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) selaku tuan rumah penyelenggara, akan menyelenggarakan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 pada 4–6 Agustus 2026 di University Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Konferensi ini mengangkat tema “Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan”.
Penyelenggaraan KPDI ke-17 dilatarbelakangi semakin tingginya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet APJII 2025, jumlah pengguna internet telah mencapai lebih dari 229 juta jiwa atau sekitar 80,66 persen dari total populasi. Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diiringi oleh kualitas pemanfaatan informasi.
Hal ini tercermin dari Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) Tahun 2025 yang berada pada angka 44,53, sehingga penguatan literasi digital dan budaya informasi perlu terus ditingkatkan. Dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), transformasi digital juga menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang mencakup penguatan ekosistem digital, pengembangan talenta digital, serta tata kelola kecerdasan buatan yang etis dan inklusif.
Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang juga Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) periode 2024–2028, Joko Santoso, menegaskan bahwa perpustakaan harus terus bertransformasi agar mampu menjawab dinamika masyarakat di era digital.
“Perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan akses terhadap informasi. Perpustakaan harus mampu menjadi ruang pembelajaran yang membangun kesadaran masyarakat, membentuk perilaku literasi yang sehat, memperkuat interaksi berbasis pengetahuan, sekaligus menumbuhkan budaya informasi yang kritis, etis, dan bertanggung jawab,” ujarnya dalam Taklimat Media Konferensi Digital Indonesia ke-17 yang diselenggarakan di Executive Lounge Lt. 24, Kamis (2/7/2026).
Menurut Joko, KPDI ke-17 tidak dimaknai sebagai agenda konferensi tahunan semata, tetapi merupakan bagian dari arah strategis pengembangan perpustakaan Indonesia yang adaptif terhadap perubahan teknologi, responsif terhadap dinamika masyarakat, serta berorientasi pada penguatan budaya informasi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Melalui konferensi ini, Perpusnas, FPDI, dan UMY terus memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan perpustakaan yang inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era transformasi digital.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam mengelola informasi secara cerdas dan beretika.
“Tema ini mencerminkan keyakinan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan manusia dalam mengelola informasi secara cerdas, bijaksana, dan beretika,” lanjutnya.
Joko menjelaskan, teknologi hanya akan memberikan manfaat apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki kemampuan mengakses, mengevaluasi, memverifikasi, serta memanfaatkan informasi secara tepat. Karena itu, perpustakaan perlu terus dikembangkan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, ruang kolaborasi, pusat inovasi, sekaligus simpul literasi digital yang mampu memperkuat daya saing bangsa di era ekonomi berbasis pengetahuan.
KPDI ke-17 menargetkan partisipasi sekitar 400 peserta yang berasal dari unsur pemerintah, akademisi, pustakawan, pengelola perpustakaan, peneliti, mahasiswa, pegiat literasi, praktisi teknologi informasi, penerbit, penulis, komunitas, hingga dunia usaha. Hingga 1 Juli 2026, sebanyak 252 peserta telah mendaftarkan diri, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap penyelenggaraan konferensi tahun ini.
Wakil Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia, Ida Fajar Priyanto, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini mengingatkan pada euforia internet yang terjadi pada era 1990 an. Menurutnya, saat itu masyarakat memanfaatkan internet dan mengakses berbagai situs web, termasuk koleksi digital yang disediakan perpustakaan.
“Kondisi serupa kini kembali terjadi dengan hadirnya AI. Teknologi ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk di bidang akademik seperti membantu penulisan dan penyusunan presentasi,” katanya.
Namun, lanjutnya, di sisi lain AI juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan maupun menyebarkan informasi yang menyesatkan. Karena itu, Forum Perpustakaan Digital dalam konferensinya lebih menitikberatkan pembahasan pada upaya membangun kesadaran masyarakat dalam menggunakan AI secara bertanggung jawab daripada sekadar membahas aspek teknologinya.
Ketua Panitia Lokal KPDI ke-17, Eko Kurniawan, mengatakan penyelenggaraan KPDI ke-17 di Yogyakarta memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Selain menjadi kali pertama perguruan tinggi swasta, UMY, dipercaya sebagai tuan rumah, faktor Yogyakarta menurutnya menjadi magnet peserta.
“Yogyakarta itu kan terbuat dari rindu pulang dan angkringan, artinya semua orang pasti ingin ke Yogyakarta. Dengan ditetapkannya sebagai tuan rumah, saya pastikan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon peserta,” ungkapnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, lanjutnya, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan profesional, antara lain seminar nasional dan internasional, Workshop Smart Writing with AI: Optimalisasi Penulisan Karya Ilmiah di Era Digital, Workshop Dashboard Terintegrasi untuk Perpustakaan, serta Workshop Preservasi Digital yang menghadirkan Mr. Thomas Rieger dari The Library of Congress.
Selain itu, peserta juga dapat mengikuti klinik aplikasi perpustakaan yang menghadirkan INLISLite, SLiMS, EPrints, DSpace, dan Open Journal Systems (OJS), presentasi Call for Papers, Call for Posters, Lomba Website Perpustakaan, hingga cultural tour berbasis kearifan lokal.
Seminar internasional menghadirkan Ismail Fahmi, Mega Subramaniam dari University of Maryland, Amerika Serikat, serta Heru Kurnianto dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang akan membahas berbagai isu strategis mengenai kecerdasan buatan, literasi digital, perilaku informasi, dan transformasi perpustakaan di era digital.
Penguatan publikasi ilmiah juga menjadi salah satu fokus KPDI ke-17. Sebanyak 77 makalah telah diterima melalui Call for Papers, dan 16 makalah terbaik lolos seleksi untuk dipresentasikan dalam konferensi. Makalah tersebut akan direkomendasikan untuk dipublikasikan pada Prosiding KPDI maupun Record and Library Journal yang terindeks Scopus Q4. Selain itu, karya peserta lainnya juga akan difasilitasi menuju publikasi pada sejumlah jurnal nasional bereputasi. Pada kategori Call for Posters, panitia menerima 29 karya, memilih 10 poster terbaik untuk dipamerkan selama konferensi, serta menetapkan tiga poster terbaik sebagai penerima penghargaan. Sementara itu, 33 perpustakaan mengikuti Lomba Website Perpustakaan, dengan tiga karya terbaik yang akan memperoleh apresiasi pada saat konferensi.
Konferensi ini terbuka bagi pembuat kebijakan di tingkat pusat maupun daerah, akademisi, peneliti, pustakawan, pengelola perpustakaan, praktisi teknologi informasi, pelaku Corporate Social Responsibility (CSR), mahasiswa, komunitas, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pengembangan perpustakaan digital dan literasi informasi.
Mengakhiri keterangannya, Joko mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun budaya informasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Kami percaya bahwa penguatan budaya informasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, tetapi memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar perpustakaan semakin mampu menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan KPDI ke-17, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama Forum Perpustakaan Digital Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selaku tuan rumah penyelenggara berharap konferensi ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi nasional, memperluas jejaring pengetahuan, menghasilkan rekomendasi kebijakan, serta mendorong lahirnya inovasi layanan perpustakaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Informasi mengenai pendaftaran, jadwal kegiatan, biaya, dan rangkaian acara KPDI ke-17 dapat diakses melalui https://kpdi17.umy.ac.id. Informasi terbaru juga tersedia melalui akun Instagram resmi @perpusnas.go.id dan @pusdatin_perpusnas.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi panitia melalui WhatsApp 0858-4288-5954 atau surat elektronik kpdi17@umy.ac.id





