LINTAS BISNIS – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bekasi resmi membuka Open Program Pelatihan Berbasis Kompetensi Tahun 2026 dengan menggandeng LPK Perhotelan Horison yang berada di bawah naungan Horison Hotels Group. Kegiatan tersebut digelar di Hotel Horison Iswara Bekasi pada Selasa (30/6/2026).
Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia industri untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan siap memasuki dunia kerja. Pelatihan diselenggarakan sesuai kebutuhan industri, mulai dari bidang otomotif hingga perhotelan (hospitality), sehingga peserta diharapkan tidak hanya memperoleh sertifikat kompetensi, tetapi juga memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bekasi, Dzikron, mengatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui berbagai program pelatihan.
“Salah satu upaya kami adalah membekali masyarakat dengan keterampilan sehingga mereka semakin mudah mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
Menurut Dzikron, pelatihan yang saat ini dilaksanakan mencakup bidang otomotif roda dua dan roda empat. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan difasilitasi untuk memperoleh akses penempatan kerja di berbagai perusahaan yang beroperasi di Kota Bekasi.
“Ke depan kami akan meningkatkan kapasitas pelatihan agar semakin banyak masyarakat yang dapat mengikuti program ini,” katanya.
Ia juga mengakui masih banyak masyarakat yang belum mengetahui berbagai program pelatihan yang diselenggarakan Disnaker. Karena itu, pihaknya akan terus memperluas sosialisasi agar manfaat program dapat dirasakan lebih banyak pencari kerja.
“Program ini merupakan salah satu langkah untuk membantu menekan angka pengangguran di Kota Bekasi,” tambahnya.
Sementara itu, Bayu Waskito Nugroho, CHA, Executive Director PT Metropolitan Golden Management (PT MGM) selaku pengelola Horison Hotels Group, menegaskan bahwa pengembangan SDM harus selaras dengan kebutuhan riil industri perhotelan dan pariwisata.
Menurutnya, peluang kerja tidak hanya tersedia di sektor perhotelan dalam negeri, tetapi juga terbuka di industri kapal pesiar, program magang internasional, serta berbagai sektor jasa lainnya yang masih membutuhkan tenaga kerja Indonesia.
Bayu juga menilai kerja sama antara dunia industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) melalui program Praktik Kerja Lapangan (PKL) perlu terus diperkuat.
Pengalaman kerja yang diperoleh peserta didik selama PKL dinilai dapat meningkatkan peluang mereka direkrut sebagai karyawan setelah lulus.
Selain itu, ia mendukung penerapan skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan peserta didik bekerja sambil melanjutkan pendidikan.
Meski industri perhotelan masih menghadapi tantangan pemulihan pascapandemi, Bayu berharap program pelatihan berbasis kompetensi dapat terus berjalan secara berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Principal Horison Vocational Training Institute, Irfan Prasetya, menjelaskan bahwa lembaganya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi melalui Disnaker untuk meningkatkan kualitas SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Program pelatihan hospitality yang diselenggarakan dalam kerja sama tersebut berlangsung selama 15 hari dan mencakup dua bidang pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan industri.
“Sektor hospitality masih memiliki permintaan tenaga kerja yang cukup tinggi sehingga peserta dibekali kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh industri,” ujarnya.
Meski demikian, Irfan menegaskan bahwa LPK Perhotelan Horison tidak memberikan jaminan penempatan kerja. Tugas lembaga pelatihan adalah membekali peserta dengan kompetensi agar memiliki daya saing yang lebih baik saat memasuki dunia kerja.
Selain pelatihan singkat selama 15 hari, LPK Perhotelan Horison juga memiliki program pelatihan hingga tiga bulan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan skema kerja sama bersama berbagai mitra.
Irfan mengungkapkan peluang kerja di sektor perhotelan masih terbuka luas di berbagai daerah, tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di Jawa Tengah, Sulawesi, hingga Papua. Sejumlah hotel berbintang di Wonosobo, Purbalingga, Madiun, Karanganyar, dan Semarang masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar.
Ia menilai salah satu tantangan utama dalam penyerapan tenaga kerja adalah masih banyak pencari kerja yang enggan bekerja di luar daerah asal.
“Padahal peluang kerja di berbagai daerah sangat terbuka dan memiliki prospek yang baik. Banyak tenaga kerja yang berhasil memperoleh pekerjaan karena bersedia keluar dari zona nyaman,” katanya.
Menutup keterangannya, Irfan berharap sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia industri terus diperkuat agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, profesional, dan siap memenuhi kebutuhan industri di berbagai wilayah Indonesia.






