LINTAS BISNIS — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Pergerakan harga dipengaruhi membaiknya prospek permintaan India serta penguatan pasar minyak nabati global.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO Agustus 2026 stagnan di level 4.528 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 turun 32 ringgit menjadi 4.576 ringgit per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 terkoreksi 14 ringgit menjadi 4.710 ringgit per ton.
Sebaliknya, kontrak November 2026 naik 2 ringgit menjadi 4.807 ringgit per ton. Kontrak Desember 2026 menguat 17 ringgit menjadi 4.879 ringgit per ton, sementara kontrak Januari 2027 naik 28 ringgit menjadi 4.936 ringgit per ton.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan masih terjadi pada kontrak jangka pendek, sementara kontrak pengiriman lebih panjang justru mencatat penguatan.
Mengutip TradingView, harga minyak sawit berjangka Malaysia berada di sekitar 4.725 ringgit per ton dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Penguatan didukung kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian serta prospek ekspor Malaysia yang membaik.
Sejumlah surveyor kargo memperkirakan pengiriman minyak sawit Malaysia pada 10 hari pertama Agustus meningkat sekitar 2,64% hingga 14,8% dibandingkan periode yang sama pada Juli.
Dari sisi permintaan, sentimen positif juga datang dari India. Impor minyak nabati negara tersebut mencapai level tertinggi dalam 10 bulan pada Juli setelah perusahaan penyulingan meningkatkan pembelian minyak sawit dan minyak kedelai.
Harga CPO turut mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat mengancam mempertahankan blokade laut terhadap Iran.
Namun, kenaikan CPO masih tertahan oleh penguatan ringgit Malaysia yang membuat komoditas tersebut relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pelemahan harga minyak kedelai di bursa Chicago juga membatasi penguatan CPO karena minyak kedelai merupakan salah satu produk substitusi utama minyak sawit di pasar global.
Sementara itu, Malaysia menurunkan harga referensi CPO untuk September. Namun, penyesuaian tersebut belum cukup untuk menurunkan tarif bea keluar CPO di bawah 10,45%.









