LINTAS BISNIS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang rebound dan bergerak menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026), meski pasar masih dibayangi tekanan dari aksi jual investor asing, pelemahan rupiah, serta koreksi bursa saham Amerika Serikat.
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. IHSG diproyeksikan berada pada rentang support 6.060–6.000 dan resistance 6.180–6.245.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.060–6.000 dan resist 6.180–6.245,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, Rabu (30/9/2026).
Dari eksternal, sentimen pasar masih dipengaruhi pelemahan indeks Wall Street setelah perdagangan berlangsung fluktuatif. Tekanan muncul seiring berlanjutnya kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun tercatat menembus 5,646%, level tertinggi sejak Juni 2002. Sementara yield obligasi tenor 10 tahun menyentuh 5,2996%.
Kenaikan yield tersebut turut menekan saham sektor perbankan AS. JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America masing-masing ditutup melemah 0,481%, 0,454%, dan 0,920%.
Di sisi lain, kenaikan harga sejumlah komoditas mineral logam berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik.
Untuk perdagangan hari ini, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham untuk strategi trading, yakni TINS, ANTM, BBRI, MAPA, HRTA, dan SMGR.









