Home / News / Dua Film MADFest Merah Putih Bawa Suara Pekerja Indonesia ke Panggung Film Internasional Inggris

Dua Film MADFest Merah Putih Bawa Suara Pekerja Indonesia ke Panggung Film Internasional Inggris

LintasBisnis.com — Dua film pendek karya MADFest Merah Putih 2026, Antrian Nomor Kematian dan Kandang yang Tak Menunduk, diproyeksikan membawa cerita serta aspirasi pekerja Indonesia ke Working Class Film Festival di Sheffield, Inggris.

Kehadiran kedua film tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang penyampaian aspirasi pekerja melalui medium film sekaligus memperkenalkan realitas sosial Indonesia kepada publik internasional.

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo mengapresiasi karya-karya yang lahir dari MADFest Merah Putih. Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai karya seni dan hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan merekam realitas masyarakat.

“Film tidak hanya merupakan sebuah karya seni dan hiburan, namun juga ruang untuk menyampaikan gagasan, merekam realitas, memperkenalkan identitas, sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada dunia,” kata Syafrin.

Ia menilai kesempatan karya anak muda Indonesia tampil dalam forum internasional dapat menjadi pemantik bagi sineas dan komunitas kreatif lainnya untuk terus menghasilkan karya yang mampu membawa cerita Indonesia ke ruang global.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) Sonny Pudjisasono mengatakan kedua film tersebut merupakan bagian dari karya yang dikurasi dari MADFest Merah Putih, sebuah festival film pendek yang membuka ruang bagi pekerja dan serikat pekerja untuk menyampaikan aspirasi melalui film.

Menurut Sonny, MADFest Merah Putih dirancang sebagai alternatif penyampaian aspirasi publik melalui medium digital. Persoalan pekerja tidak hanya dapat disuarakan melalui aksi di ruang publik, tetapi juga melalui karya audiovisual.

“Ini merupakan terobosan atau jalan baru ruang bagi kawan-kawan untuk menyampaikan aspirasi di depan publik melalui media digital,” ujar Sonny dalam kegiatan MADFest Merah Putih di kawasan Car Free Day (CFD) Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Sonny menyebut sekitar 62 peserta mengikuti MADFest Merah Putih 2026. Karya-karya yang masuk kemudian melalui proses seleksi hingga menghasilkan sejumlah film yang mendapat apresiasi dalam festival.

Ia menegaskan MADFest tidak semata-mata diposisikan sebagai kompetisi untuk menentukan juara. Festival tersebut lebih diarahkan menjadi ruang kesetaraan bagi pekerja untuk menyampaikan persoalan, pengalaman, dan aspirasi melalui karya kreatif.

Dua film yang dikurasi untuk dibawa ke forum internasional tersebut adalah Antrian Nomor Kematian dan Kandang yang Tak Menunduk.

Kandang yang Tak Menunduk mengangkat kehidupan komunitas peternak serta persoalan eksploitasi lingkungan. Sementara itu, Antrian Nomor Kematian menyoroti persoalan pelayanan kesehatan, termasuk kerumitan birokrasi yang dihadapi pasien pengguna BPJS.

Karya Kandang yang Tak Menunduk sebelumnya juga tercatat sebagai salah satu film yang tampil dalam festival kelas pekerja tersebut.

Sonny berharap MADFest Merah Putih dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dan berkembang sebagai ruang bagi pekerja untuk menyampaikan berbagai persoalan melalui karya kreatif.

Ia juga menyampaikan rencana Indonesia menjadi tuan rumah festival film kelas pekerja internasional pada 2028. Namun, rencana tersebut masih sebatas agenda yang disampaikan oleh penyelenggara.

Working Class Film Festival di Sheffield sendiri dirancang untuk mengangkat karya-karya dari pembuat film berlatar belakang kelas pekerja. Festival tersebut digelar di The Showroom Cinema, Sheffield, dan membuka ruang bagi berbagai jenis film serta perspektif mengenai kehidupan kelas pekerja.

Bagi MADFest Merah Putih, keikutsertaan dua film tersebut menjadi kesempatan untuk membawa isu ketenagakerjaan, kehidupan pekerja, dan berbagai persoalan sosial Indonesia ke ruang apresiasi internasional.

Kehadiran Antrian Nomor Kematian dan Kandang yang Tak Menunduk sekaligus menunjukkan bahwa isu pekerja dapat disampaikan melalui medium film dengan pendekatan kreatif dan humanis, sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas di tingkat global.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *