Home / Finansial / Rupiah Kembali Tertekan, Tembus Rp17.585 per Dolar AS di Pembukaan Perdagangan

Rupiah Kembali Tertekan, Tembus Rp17.585 per Dolar AS di Pembukaan Perdagangan

LintasBisnis.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026). Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah 38 poin atau sekitar 0,22% ke level Rp17.585 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau relatif stabil di level 99,072.

Pelemahan rupiah melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (10/9/2026), rupiah ditutup melemah 36 poin atau sekitar 0,21% ke level Rp17.547 per dolar AS.

Pergerakan mata uang global turut dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Dikutip dari Reuters, dolar AS sempat bertahan di dekat level tertinggi dalam sepekan terakhir, sementara yen Jepang melemah untuk hari kedua pada awal perdagangan Asia, Jumat.

Indeks dolar AS sebelumnya berada di level 99,081, relatif stabil setelah menguat 0,39% pada Kamis dan mencapai posisi tertinggi sejak 7 September 2026.

Penguatan dolar AS tersebut terjadi setelah data ekonomi menunjukkan harga produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat meningkat 0,4% pada Agustus 2026.

Analis pasar IG Australia, Tony Sycamore, mengatakan dolar AS mendapatkan dukungan dari meningkatnya sentimen risk-off di pasar.

“Dolar AS, sebagai aset safe haven, menguat akibat sentimen penghindaran risiko (risk-aversion), yang juga didukung oleh kenaikan harga energi,” ujar Tony Sycamore.

Kenaikan harga energi turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Di pasar komoditas, harga minyak dunia melanjutkan penguatan. Minyak mentah berjangka Brent naik sekitar 1,2% menjadi US$108,96 per barel pada perdagangan Asia.

Sementara itu, pergerakan mata uang lainnya relatif beragam. Dolar Australia bergerak datar di level US$0,7160 per dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru menguat sekitar 0,1% menjadi US$0,5805 per dolar AS.

Euro dan poundsterling Inggris juga relatif stabil terhadap dolar AS. Euro berada di kisaran US$1,1613, sedangkan poundsterling Inggris berada di level US$1,3510 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Jumat akan menjadi perhatian pelaku pasar, terutama di tengah dinamika dolar AS, harga minyak dunia, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *