LintasBisnis.com – Harga emas dunia berada di persimpangan penting setelah mengalami koreksi tajam dari reli yang terjadi sepanjang Agustus. Pergerakan emas mulai menunjukkan tanda stabil di area support, tetapi arah selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan harga mempertahankan level teknikal penting serta respons pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS).
Pada Jumat (11/9/2026) pagi, harga emas spot tercatat naik tipis 0,086% menjadi US$4.319,6 per ons troi saat berita ini ditulis.
Sementara pada perdagangan Kamis (10/9/2026), harga emas spot ditutup turun 1,946% ke level US$4.316,76 per ons troi.
Senior Technical Strategist Forex.com, Michael Boutros, mengatakan harga emas saat ini bergerak tepat di atas zona support penting pada kisaran US$4.305–US$4.319 per ons troi.
Menurut Boutros, zona tersebut menjadi area krusial karena merupakan titik pertemuan sejumlah indikator teknikal, yakni retracement 38,2% dari penurunan April, retracement 50,6% dari reli Juni, serta level pembukaan perdagangan 2026.
“Zona tersebut menjadi area penting karena merupakan pertemuan retracement 38,24 dari penurunan April, retracement 50,6 dari reli Juni, serta level pembukaan 2026,” tulis Boutros dalam analisisnya pada Jumat (11/9/2026).
Risiko Harga Emas Turun ke US$4.230
Boutros menjelaskan, emas sebelumnya mencatat reli lebih dari 19,14% dari level terendah tahun ini setelah berhasil menembus pola konsolidasi yang berlangsung selama beberapa bulan.
Namun, penguatan tersebut kemudian berakhir dan harga emas mengalami koreksi lebih dari 8,89% sebelum akhirnya menemukan pijakan di sekitar zona support saat ini.
Menurutnya, level US$4.305–US$4.319 menjadi area yang harus dipertahankan oleh harga emas. Apabila gagal bertahan, emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$4.230 per ons troi.
Level US$4.230 menjadi batas penting untuk menjaga tren kenaikan emas yang terbentuk sejak Juli tetap berlangsung.
“Kerugian perlu dibatasi hingga US$4.230 per ons troi agar tren naik sejak Juli tetap layak dipertahankan,” ujar Boutros.
Jika emas mencatatkan penutupan harian di bawah US$4.230, risiko terjadinya pembalikan tren yang lebih besar akan semakin meningkat.
Dalam skenario tersebut, level support berikutnya berada di sekitar US$4.165, kemudian US$4.097 per ons troi.
Emas Berpeluang Rebound
Meski demikian, peluang harga emas untuk kembali menguat masih terbuka. Skenario bullish akan semakin kuat apabila emas mampu menembus sejumlah level resistance penting.
Boutros melihat resistance terdekat berada di sekitar US$4.448 per ons troi.
Setelah itu, perhatian pasar akan tertuju pada area US$4.507–US$4.537 per ons troi.
Area tersebut bertepatan dengan sejumlah indikator teknikal penting, termasuk retracement 38,2% dari penurunan Maret, retracement 61,8% dari penurunan April, high-day close (HDC) 2025, serta moving average 200 hari.
Menurut Boutros, penembusan sekaligus penutupan harian di atas area US$4.507–US$4.537 akan menjadi sinyal bullish bagi emas dan membuka peluang bagi harga untuk kembali melanjutkan tren kenaikan sejak Juli.
“Jika berhasil melewati area tersebut, target berikutnya berada di US$4.658 per ons troi, kemudian US$4.716 per ons troi,” kata Boutros.
CPI AS Jadi Penentu Arah Emas
Selain level teknikal, pelaku pasar kini juga menunggu data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus yang dirilis Jumat (11/9/2026).
Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Perhatian semakin besar karena pasar juga bersiap menghadapi pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga meningkat setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Boutros menyebut pasar futures kini memperkirakan sekitar 72% probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan.
Apabila data CPI AS kembali menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi meningkat.
Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Sebaliknya, apabila inflasi AS berada di bawah ekspektasi pasar, tekanan terhadap emas berpotensi mereda. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali stabil dan mencoba menguji level resistance terdekat.
Pelaku pasar juga akan mencermati data penjualan ritel AS Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 16 September 2026.
Dengan demikian, pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yakni kemampuan harga mempertahankan support US$4.305–US$4.319 serta respons pasar terhadap data inflasi dan arah kebijakan The Fed.
Jika support tersebut bertahan, peluang pemulihan menuju US$4.448 hingga US$4.507–US$4.537 masih terbuka. Namun, apabila US$4.230 ditembus ke bawah secara meyakinkan, risiko koreksi yang lebih dalam akan semakin besar.










