LintasBisnis.com – Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan yang jatuh setiap 14 September menjadi momentum untuk memperkuat kedekatan masyarakat dengan perpustakaan sekaligus mendorong tumbuhnya budaya literasi di tengah perubahan zaman.
Menyambut Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar Gelar Wicara Hari Kunjung Perpustakaan bertajuk “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” di Gedung Layanan Perpusnas, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan peringatan Hari Kunjung Perpustakaan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai ajakan kepada masyarakat untuk datang ke gedung perpustakaan.
Menurutnya, momentum tersebut justru harus menjadi dorongan bagi pustakawan dan pegiat literasi untuk lebih aktif hadir di tengah masyarakat, memahami kondisi sosial, serta melihat secara langsung berbagai tantangan literasi yang dihadapi.
“Kitalah, para pustakawan dan pegiat literasi, yang harus mengambil peran proaktif sebagai garda terdepan dalam menghadapi dan menyembuhkan apa yang kita kenal sebagai pandemi nirliterasi,” tegas Suharyanto.
Ia menilai sudah saatnya paradigma mengenai perpustakaan diubah. Masyarakat tidak semata-mata harus datang mencari perpustakaan, tetapi perpustakaan dan para penggerak literasi juga perlu hadir mendekati masyarakat.
“Jika selama ini kita memiliki pandangan bahwa masyarakatlah yang berkewajiban untuk datang ke gedung perpustakaan, maka kini saatnya kita melakukan dekonstruksi pemikiran. Kita harus mengubah paradigma tersebut,” tambahnya.
Literasi Dimulai dari Keluarga
Suharyanto menekankan, penguatan gerakan literasi harus dimulai dari lingkungan terkecil masyarakat, yakni keluarga.
Dari keluarga, gerakan tersebut kemudian perlu diperluas melalui lembaga pendidikan maupun berbagai ruang literasi berbasis masyarakat, seperti pesantren dan taman baca.
“Gerakan kebudayaan ini harus kita tanam dan rawat mulai dari sel terkecil masyarakat, yaitu keluarga,” jelasnya.
Menurut Suharyanto, literasi juga tidak dapat dipersempit hanya sebagai kemampuan membaca teks. Lebih dari itu, literasi merupakan proses transformasi yang mencakup kemampuan memahami, menganalisis, mengkritisi, hingga menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis, mengkritisi, serta mengimplementasikan informasi dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2026. Perpusnas mendorong perubahan posisi perpustakaan agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi berkembang menjadi ruang literasi yang hidup, terbuka, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Buku sebagai Penjaga Ingatan
Tema “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” turut menyoroti relevansi buku di tengah derasnya arus informasi digital.
Suharyanto mengatakan buku memiliki peran penting dalam menjaga ingatan sejarah, mengenalkan pemikiran generasi terdahulu, sekaligus mewariskan pengetahuan, pengalaman, dan gagasan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, penguatan literasi membutuhkan kerja bersama yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari perpustakaan, institusi pendidikan, penerbit, komunitas, media, hingga masyarakat luas.
“Demi menghidupkan kembali ruh perpustakaan sebagai rumah peradaban, saya percaya, membangun literasi merupakan kerja peradaban, kerja kita bersama,” ujarnya.
Gelar Wicara Hari Kunjung Perpustakaan 2026 juga menghadirkan perspektif sejumlah penulis mengenai posisi buku dalam merawat ingatan sekaligus membangun kesadaran masyarakat.
Penulis novel Rahasia Salinem, Wisnu Suryaning Adji, menilai salah satu kekuatan buku dibandingkan instrumen informasi lainnya terletak pada kemampuannya menyajikan sebuah fenomena secara lebih komprehensif.
“Buku ini bisa menunjukkan suatu fenomena secara lebih utuh, sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk mengaksesnya sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ucapnya.
Sementara itu, penulis novel Negeri Lima Menara, Ahmad Fuadi, melihat buku sebagai produk dari proses yang tidak impulsif. Menurutnya, terdapat tahapan penting yang dilalui sebelum sebuah pengalaman dituangkan menjadi karya.
“Ada tiga proses sebelum menulis buku. Pertama, kita menyaksikan momen, kemudian merenung. Yang kedua, proses menuliskan memori ke buku. Ketiga, proses reading-nya,” paparnya.
Ia juga menilai pengalaman pribadi dapat menjadi sumber kedalaman emosi dalam sebuah tulisan sehingga pembaca lebih mudah terhubung dengan cerita yang disampaikan.
Perpustakaan sebagai Ruang Pertukaran Gagasan
Pandangan mengenai buku sebagai medium untuk mengabadikan pengalaman dan peradaban juga disampaikan penulis Maman Suherman.
Menurut Maman, menulis buku memberikan ruang bagi pembaca untuk kembali melihat dan menginterpretasikan fakta maupun pengalaman dari perspektif masing-masing.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika mengalihwahanakan skripsinya menjadi novel Re:.
“Kalau kita menulis buku, kita jadi mengabadikan kenangan, peradaban, bikin orang menginterpretasikan ulang fakta-fakta yang ada,” ungkap Maman.
Maman juga mendorong perpustakaan agar semakin aktif menghadirkan kegiatan yang menjadikan buku sebagai ruang bertukar gagasan. Salah satu konsep yang dapat dikembangkan adalah human library atau living library, yang menempatkan pengalaman manusia sebagai sumber pembelajaran.
Melalui peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpusnas menegaskan kembali pentingnya menghadirkan perpustakaan lebih dekat dengan masyarakat.
Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh bahan bacaan, tetapi juga berkembang sebagai ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan, pembentukan kesadaran, serta pembelajaran sepanjang hayat.
Dengan demikian, gerakan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku, melainkan berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang mampu memperkuat daya pikir, kesadaran, dan kualitas masyarakat.









