Home / Pendidikan / Menuju Indonesia Emas 2045, NUS Dorong Penguatan SDM di Era AI

Menuju Indonesia Emas 2045, NUS Dorong Penguatan SDM di Era AI

LintasBisnis.com – Peluang terbesar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi Indonesia tidak semata-mata terletak pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk mengubah AI menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Dr. Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations) NUS Business School, dalam diskusi bersama media di Jakarta.

Menurutnya, seiring berkembangnya AI, paradigma bonus demografi Indonesia perlu bergeser. Jika selama ini bonus demografi lebih banyak dilihat dari besarnya jumlah tenaga kerja, AI membuat kualitas, keterampilan, dan kapabilitas SDM menjadi faktor yang semakin menentukan.

“Teknologinya sudah ada. Pertanyaan besarnya kini: siapkah SDM kita mencetak nilai tambah dari AI?” ujar Dr. Tan.

Ia menilai AI seharusnya tidak hanya digunakan untuk menggantikan atau mengotomatisasi pekerjaan manusia. Lebih dari itu, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta menciptakan nilai baru.

“Tujuan AI tak boleh cuma sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas,” tegasnya.

Indonesia memiliki modal besar untuk mengoptimalkan peluang tersebut. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi digital yang hampir mencapai US$100 miliar pada 2025, Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara.

Potensi tersebut semakin besar dengan keberadaan sekitar 65 juta UMKM yang memiliki peran penting terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Namun, percepatan adopsi AI masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan SDM, infrastruktur digital, serta kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pola kerja.

Tiga Tahap Membangun Human Dividend
Dr. Tan menjelaskan, pengembangan human dividend membutuhkan investasi berkelanjutan setidaknya melalui tiga tahap.

Pertama, perusahaan perlu meningkatkan literasi AI agar karyawan memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara efektif.

Kedua, pimpinan perusahaan harus mampu merancang ulang pola kerja sehingga AI memperkuat peran manusia, bukan sekadar menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin.

Ketiga, perusahaan perlu membangun budaya belajar berkelanjutan karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat.

“AI dan teknologi akan terus berkembang. Keunggulan bersaing jangka panjang akan tercipta dengan terus meningkatkan kapabilitas SDM lewat AI,” kata Dr. Tan.

33 Persen Profesional Indonesia Masuk Pengguna AI Tingkat Mahir
Peluang untuk membangun SDM yang siap menghadapi era AI juga terlihat dari tingkat adopsi teknologi di Indonesia.

Berdasarkan Microsoft Work Trend Index 2026, sekitar 33 persen profesional di Indonesia masuk kategori pengguna AI tingkat mahir atau advanced. Angka tersebut berada di atas rata-rata global yang sekitar 16 persen.

Kondisi tersebut didukung oleh penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai sekitar 81 persen serta ekosistem kewirausahaan yang terus berkembang.

Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, menilai pengembangan SDM harus menjadi bagian integral dari setiap strategi transformasi AI perusahaan.

“Setiap proyek AI wajib menyertakan rencana pengembangan SDM di samping rencana implementasi teknologinya,” ungkap Prof. Teo.

Menurutnya, perusahaan tidak seharusnya memisahkan agenda adopsi AI dan pengembangan tenaga kerja. Keduanya harus berjalan beriringan agar investasi teknologi benar-benar menghasilkan dampak bisnis.

UMKM Berpeluang Jadi Penggerak Adopsi AI
Prof. Teo juga melihat UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kisah sukses pemanfaatan AI.

Menurutnya, karakter UMKM yang lebih dinamis membuat sektor ini relatif mampu bereksperimen dan beradaptasi dengan cepat.

AI dapat membantu UMKM menjangkau lebih banyak pelanggan, meningkatkan efisiensi, serta mengembangkan bisnis tanpa harus meningkatkan biaya operasional secara signifikan.

“AI memberikan kesempatan bagi bisnis skala kecil untuk menghasilkan dampak besar dengan sumber daya yang efisien,” ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci
Selain mendorong produktivitas perusahaan, pemanfaatan AI dinilai memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan nasional, mulai dari kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, inklusi keuangan hingga pelayanan publik.

Karena itu, Prof. Teo menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan dan industri.

Menurutnya, sekolah bisnis tidak hanya memiliki tanggung jawab mencetak lulusan, tetapi juga pemimpin yang mampu memahami integrasi AI ke dalam strategi bisnis, memimpin transformasi perusahaan, serta menerjemahkan hasil riset menjadi solusi yang memberikan dampak ekonomi dan sosial.

Dalam kunjungannya ke Jakarta, NUS Business School juga membawa agenda overseas learning yang diikuti 55 peserta Executive MBA dari 15 negara dan 15 sektor industri.

Rangkaian kegiatan tersebut turut diisi malam keakraban alumni dan mahasiswa aktif NUS Business School serta peresmian Alumni Founders Business Showcase yang menampilkan berbagai unit bisnis dan startup karya alumni di Jakarta dan Singapura.

Di sisi pendidikan, minat mahasiswa asal Indonesia terhadap berbagai program NUS Business School juga dinilai tetap stabil. Program MSc in Sustainable and Green Finance serta MSc in Strategic Analysis and Innovation menjadi sejumlah pilihan yang diminati, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap kompetensi di bidang keuangan, inovasi dan keberlanjutan.

Dr. Tan mendorong Indonesia untuk membangun pendekatan AI yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan nasional, bukan sekadar mengikuti model negara lain.

Menurutnya, keunggulan jangka panjang tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi AI paling canggih, tetapi oleh siapa yang paling konsisten meningkatkan kualitas manusia yang menggunakannya.

“Peluang AI terbesar bagi Indonesia adalah memperkuat human dividend yang dimilikinya,” tutup Dr. Tan.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *