LintasBisnis.com – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian pelaku pasar. Investor tidak hanya mencermati sosok menteri baru, tetapi juga konsistensi kebijakan fiskal serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai kondisi pasar keuangan Indonesia saat ini menuntut investor lebih selektif. Perubahan kebijakan domestik yang beriringan dengan dinamika ekonomi global membuat pelaku pasar perlu mencermati fundamental perusahaan dan katalis yang dapat menentukan arah pasar ke depan.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif bagi pasar. Latar belakang Suahasil dalam kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.
“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, apalagi dengan latar belakang Suahasil Nazara di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully dalam Media Day secara virtual, Selasa (14/9/2026).
Perhatian investor tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG ditutup relatif datar di level 6.535 setelah sempat terkoreksi lebih dari 2 persen secara intraday.
Menurut Rully, pergerakan tersebut menunjukkan investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal setelah pergantian Menteri Keuangan. Kredibilitas fiskal dan komunikasi pemerintah pun menjadi faktor penting yang akan menentukan sentimen pasar selanjutnya.
The Fed dan Rupiah Jadi Perhatian
Dari sisi global, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), juga menjadi perhatian investor.
Rully memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Namun, keputusan tersebut dinilai relatif telah diperhitungkan oleh pasar.
Setelah keputusan The Fed, pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati karena turut menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia.
“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.
Di pasar saham, IHSG disebut telah mengalami re-rating sekitar 18 persen sejak awal paruh kedua 2026. Kenaikan lebih lanjut dinilai membutuhkan dukungan pertumbuhan kinerja perusahaan, arus dana asing yang lebih luas, serta kondisi eksternal yang berkelanjutan.
Saat ini, aliran dana asing masih banyak mengarah ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan sejumlah emiten komoditas.
“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully.
Penguatan rupiah juga masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif dan masuknya aliran modal. Namun, ketahanan penguatan tersebut tetap bergantung pada keberlanjutan capital inflows.
Sementara di pasar Surat Berharga Negara (SBN), koordinasi kebijakan dinilai penting agar kenaikan yield berlangsung secara bertahap. Perubahan persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah maupun peringkat kredit menjadi risiko yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu repricing lebih tajam.
“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” jelas Rully.
Saham Komoditas Tak Bisa Disamaratakan
Di sektor komoditas, peluang investasi dinilai semakin bergantung pada dampak spesifik kebijakan pemerintah.
Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal mengatakan, kebijakan komoditas akan berpengaruh terhadap produksi, harga, arus ekspor, hingga penerimaan negara.
Fauzan menilai pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tidak otomatis menjadi katalis positif bagi seluruh perusahaan tambang. Tambahan volume produksi dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap masing-masing emiten.
“Pelonggaran RKAB lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan sector-wide reset. Di nikel, tightness di sisi ore juga membuat posisi perusahaan tambang menjadi lebih kuat karena bargaining power meningkat, sementara beberapa perusahaan converter menghadapi risiko kenaikan biaya feedstock. Jadi, investor perlu melihat posisi dan fundamental masing-masing emiten, bukan hanya pergerakan harga komoditas,” ujar Fauzan.
Kondisi berbeda terlihat pada industri nikel. Keterbatasan pasokan bijih nikel membuat posisi perusahaan tambang lebih kuat karena memiliki daya tawar yang meningkat. Sebaliknya, sejumlah perusahaan pengolah atau converter berpotensi menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Karena itu, investor disarankan tidak menyamaratakan seluruh saham komoditas. Fundamental perusahaan, posisi dalam rantai pasok, serta kemampuan mempertahankan margin menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan investasi.
Commodity Exchange Mulai 2027
Selain kebijakan produksi dan ekspor, rencana Commodity Exchange yang ditargetkan mulai berjalan pada 1 Januari 2027 juga menjadi perhatian.
Fauzan menilai kehadiran bursa komoditas tersebut berpotensi memperkuat mekanisme pembentukan harga atau price discovery di dalam negeri sekaligus menciptakan referensi harga komoditas domestik.
“Commodity Exchange berpotensi menjadi langkah penting untuk meningkatkan price discovery di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan sangat bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa besar pelaku pasar menggunakan harga domestik tersebut sebagai benchmark,” jelas Fauzan.
Menurut Fauzan, peluang investasi di sektor komoditas pada akhirnya lebih menarik pada perusahaan yang memiliki kelangkaan sumber daya, kemampuan menentukan harga, serta posisi strategis dalam rantai pasok.
“Tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik,” tutup Fauzan.










