Home / Energi / Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Cemas Gangguan Pasokan dari Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Cemas Gangguan Pasokan dari Selat Hormuz

LINTAS BISNIS – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat ketidakpastian di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak sempat melonjak lebih dari US$4 per barel pada awal perdagangan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun, kenaikan harga kemudian mereda seiring munculnya harapan terhadap pembicaraan yang dimediasi Qatar antara AS dan Iran untuk mencari kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Harga minyak Brent ditutup naik 96 sen atau sekitar 0,99% menjadi US$105,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 19 sen atau sekitar 0,21% menjadi US$92,60 per barel.

Mediator Qatar diperkirakan menggelar pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan pihak AS pada Senin atau Selasa. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas versi revisi proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum PBB.

Iran sebelumnya menegaskan diplomasi merupakan jalan untuk menyelesaikan konflik dengan AS dan Israel. Trump kemudian mengatakan kepada Axios bahwa negosiator AS diperkirakan kembali terlibat dalam pembicaraan pada pekan ini.

Harapan terhadap jalur diplomasi tersebut turut menahan lonjakan harga minyak setelah sempat bergerak tajam pada awal perdagangan.

Pasokan Mulai Pulih, tetapi Masih Tertekan
Di tengah perkembangan diplomasi, arus minyak dari sejumlah produsen utama Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan.

Data awal Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah dari produsen utama kawasan tersebut mencapai 12,8 juta barel per hari (bph) pada September, menjadi level tertinggi sejak perang dimulai pada Februari.

Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta bph pada bulan ini. Meski demikian, volume tersebut masih berada di bawah level sebelum konflik sehingga risiko kekurangan pasokan tetap membayangi pasar.

“Meski lebih banyak kapal melintasi Selat Hormuz, arus minyak masih berada di bawah level sebelum konflik sehingga pasar tetap kekurangan pasokan,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia atau sekitar 20 juta bph melewati Selat Hormuz. Karena itu, gangguan terhadap jalur strategis tersebut dapat memberikan tekanan signifikan terhadap harga minyak global.

Harga Diesel Ikut Tertekan
Tekanan juga datang dari pasar produk olahan, terutama diesel. Harga diesel meningkat akibat gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dan Ukraina, serta pembatasan ekspor dari Rusia dan China.

Pemerintah AS bahkan mempertimbangkan pelonggaran aturan yang memungkinkan penjualan diesel berwarna merah secara lebih luas sebagai salah satu upaya membantu menekan harga bensin dan diesel.

Di sisi lain, kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS membuat selisih harga Brent dan WTI melebar ke level tertinggi sejak Mei.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kilang AS berpotensi mengurangi pengolahan minyak apabila produk diesel menghadapi keterbatasan akses ke pasar ekspor.

Goldman Sachs menilai gangguan pasokan diesel berpotensi dengan cepat menyebar ke pasar global, khususnya Eropa dan Amerika Latin yang menjadi tujuan utama ekspor diesel AS.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *