Home / Bisnis / Rupiah Melemah 56 Poin Sepekan, Sentimen The Fed Jadi Sorotan

Rupiah Melemah 56 Poin Sepekan, Sentimen The Fed Jadi Sorotan

LINTAS BISNIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah sepanjang perdagangan sepekan periode 21–25 September 2026. Rupiah tercatat terdepresiasi 56 poin atau 0,32%, dari level Rp17.847 menjadi Rp17.903 per dolar AS.

Pada awal perdagangan Senin (21/9/2026), rupiah dibuka melemah 33 poin atau 0,20% ke level Rp17.791 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan, dengan rupiah melemah 89 poin atau 0,51% ke level Rp17.847 per dolar AS.

Pada Selasa (22/9/2026), rupiah kembali tertekan. Mata uang Garuda dibuka melemah 40 poin atau 0,23% ke level Rp17.887 per dolar AS dan ditutup melemah 37 poin atau 0,22% ke level Rp17.884 per dolar AS.

Penguatan sempat terjadi pada Rabu (23/9/2026). Rupiah dibuka menguat 40 poin atau 0,23% ke level Rp17.844 per dolar AS. Penguatan berlanjut hingga penutupan, dengan rupiah menguat 66 poin atau 0,38% ke level Rp17.818 per dolar AS.

Namun, tren positif tersebut tidak bertahan lama. Pada Kamis (24/9/2026), rupiah kembali melemah 52 poin atau 0,30% ke level Rp17.870 per dolar AS. Tekanan semakin kuat hingga penutupan perdagangan, ketika rupiah terdepresiasi 98 poin atau 0,56% ke level Rp17.916 per dolar AS.

Memasuki Jumat (25/9/2026), rupiah sempat kembali melemah 25 poin atau 0,15% ke level Rp17.941 per dolar AS. Menjelang penutupan, rupiah mampu berbalik menguat 13 poin atau 0,08% sehingga mengakhiri perdagangan di level Rp17.903 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tren koreksi rupiah masih berlanjut pada awal pekan depan.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Sabtu (26/9/2026).

Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800–Rp18.100 per dolar AS.

Menurutnya, pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal, terutama sinyal kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.

Presiden The Fed New York, John Williams, dalam pernyataannya menyebut bank sentral masih perlu memastikan inflasi kembali menuju target dalam waktu yang tepat. Ia juga melihat adanya peluang kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun.

“Para pejabat Federal Reserve juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan,” ujar Ibrahim.

Sinyal tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan pekan depan.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *