LINTAS BISNIS – Harga Bitcoin (BTC) bergerak melemah tipis pada perdagangan Senin (10/8/2026) pagi. Namun, minat investor institusional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tercermin dari derasnya aliran dana masuk ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.45 WIB, harga Bitcoin turun 0,1196% menjadi US$64.848 per koin. Dengan asumsi kurs Rp17.827 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp1,15 miliar.
Di tengah pelemahan Bitcoin, kapitalisasi pasar kripto global justru naik 0,04% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,21 triliun.
Pergerakan aset kripto utama lainnya bervariasi. Ethereum (ETH) turun 0,416% menjadi US$1.908, sementara Binance Coin (BNB) menguat 0,286% ke level US$603. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar melemah 0,1796%.
Inflow ETF Bitcoin Capai US$853 Juta
Mengutip CoinDesk, minat investor institusional terhadap Bitcoin mulai memperlihatkan pemulihan. Dana yang mengalir ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$853,54 juta dalam sepekan hingga 7 Agustus 2026.
Angka tersebut menjadi arus dana masuk mingguan terbesar sejak pertengahan April 2026.
Data SoSoValue menunjukkan ETF Bitcoin spot milik BlackRock, IBIT, menyumbang porsi terbesar dengan inflow sekitar US$693 juta.
Lonjakan arus dana tersebut menjadi sinyal awal bahwa investor institusi mulai kembali meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin setelah menghadapi tekanan jual yang cukup besar pada paruh pertama 2026.
Bitcoin juga relatif mampu bertahan meski pasar masih dibayangi sejumlah sentimen negatif, termasuk peretasan Coldcard yang menyebabkan kerugian jutaan dolar serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Pada awal pekan, Bitcoin masih bertahan di kisaran US$64.000 dan sempat diperdagangkan di sekitar US$65.100.
Pemulihan Bitcoin Belum Sepenuhnya Terkonfirmasi
Meski inflow ETF meningkat tajam, pemulihan Bitcoin belum dapat dikatakan sepenuhnya terkonfirmasi.
Secara year to date (YTD), ETF Bitcoin masih mencatat net outflow sekitar US$4,5 miliar. Arus keluar tersebut mencerminkan tekanan jual yang terjadi sepanjang enam bulan pertama 2026.
Pada periode tersebut, harga Bitcoin sempat merosot sekitar 33% hingga berada di bawah US$60.000 pada akhir Juni.
Karena itu, pasar masih membutuhkan arus dana masuk ETF yang konsisten untuk menopang reli Bitcoin yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Sebagai pembanding, ketika Bitcoin memasuki fase reli pada April-Oktober 2025, harganya melonjak dari sekitar US$75.000 hingga mencetak rekor US$126.000. Pada periode tersebut, inflow mingguan ETF Bitcoin beberapa kali menembus US$1 miliar.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Juli yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (12/8/2026).
Data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Juli sebelumnya telah mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Jika data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang lebih rendah, kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin, untuk menguat.
Selain itu, sentimen tersebut dapat mendorong investor institusional kembali meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui ETF spot AS.
Dengan demikian, meski harga Bitcoin masih bergerak di bawah tekanan, peningkatan arus dana ETF menjadi salah satu indikator yang kini diperhatikan pasar untuk melihat apakah tren pemulihan Bitcoin dapat berlanjut.








