LINTAS BISNIS – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengajukan dua naskah kuno Nusantara, yakni Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815 dan Kidung Bhuwana Wināśa (Nyanyian tentang Dunia yang Telah Lenyap), sebagai nominasi UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) 2026.
Pengajuan kedua naskah bersejarah tersebut dipresentasikan dalam Pertemuan Umum Ke-11 MoWCAP yang berlangsung di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Forum internasional ini diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai representasi Indonesia sekaligus tuan rumah.
Upaya tersebut merupakan hasil kolaborasi Perpusnas dengan sejumlah lembaga kebudayaan dan pemangku kepentingan daerah untuk memperkenalkan serta mendorong pengakuan warisan dokumenter Indonesia di tingkat internasional.
Dalam pengajuan Bo’ Sangaji Kai, Perpusnas bekerja sama dengan Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sementara nominasi Kidung Bhuwana Wināśa melibatkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron di Munggu, Mengwi, Badung, serta Gria Gede Belayu di Marga, Tabanan.
Ketua Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja Bima, Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, dalam presentasinya menjelaskan bahwa Bo’ Sangaji Kai merupakan catatan penting mengenai sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bima sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. “Tidak hanya merekam perjalanan kerajaan, tetapi juga menyimpan kesaksian mengenai berbagai peristiwa sejarah, termasuk erupsi Gunung Tambora pada 1815,” terangnya.
Selain merekam peristiwa sejarah, naskah ini juga menyimpan informasi mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bima. Mulai dari hubungan kerajaan Bima dengan wilayah lain hingga tradisi yang masih dikenal hingga kini, seperti Hanta Ua Pua.
Sementara itu, presentasi Kidung Bhuwana Wināśa dibawakan oleh Plt. Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) Perpusnas, Aditia Gunawan. Ia menjelaskan bahwa Kidung Bhuwana Wināśa merupakan satu-satunya puisi tradisional Bali yang diketahui mendokumentasikan diplomasi, konflik, dan perlawanan yang melibatkan Bali, Lombok, serta pemerintah kolonial Belanda.
Ditulis langsung oleh Ida Pedanda Ngurah pada Agustus hingga Desember 1918, naskah ini terdiri atas 55 lempir daun lontar dengan 383 bait yang tersusun dalam empat pupuh. Keistimewaannya terletak pada perspektif masyarakat lokal dalam merekam pengalaman kolonialisme dan perjuangan mempertahankan kedaulatan, yang berbeda dari catatan sejarah kolonial.
Salah satu bagian naskah merekam keberanian perempuan Bali yang turut menghadapi pasukan Belanda dalam peristiwa Puputan Badung pada 1906 dan Puputan Klungkung pada 1908. Dalam terjemahan salah satu baitnya disebutkan, “Para perempuan maju bersama, tetapi satu per satu gugur diterjang tembakan hingga semuanya tewas,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kedua naskah tersebut juga menghadirkan perspektif mengenai peran perempuan dalam perjalanan sejarah. “Bo’ Sangaji Kai memuat catatan tentang kedudukan dan perlindungan perempuan dalam kehidupan masyarakat Bima. Sementara Kidung Bhuwana Wināśa merekam keberanian perempuan Bali yang turut berjuang melawan pasukan kolonial,” pungkasnya.
Melalui pengajuan nominasi MoWCAP, Perpusnas bersama para mitra turut mendorong agar kekayaan pengetahuan tersebut semakin dikenal dan menjadi bagian dari ingatan kolektif kawasan Asia Pasifik.









