LINTAS BISNIS – Guinea, salah satu negara penghasil emas di Afrika Barat, berupaya menjadi pusat pemurnian emas regional dengan memperkuat industri pemurnian logam mulia di dalam negeri. Langkah ini dilakukan setelah pemerintah melarang ekspor emas mentah, sehingga nilai tambah dari hasil tambang dapat dinikmati di dalam negeri.
Pemerintah telah membangun kilang emas baru yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Afrika. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu memproduksi 530 metrik ton emas per tahun (sekitar 17 juta ons) dari investasi senilai US$30 miliar, dan meningkat hingga 733 ton per tahun saat mencapai kapasitas penuh. Operasi kilang dijadwalkan dimulai pada Juli 2026 setelah memperoleh persetujuan akhir.
Menurut Menteri Pertambangan Guinea, Bouna Sylla, pada tahun lalu Guinea menghasilkan sekitar 2,32 juta ons emas dengan nilai sekitar US$7 miliar, tetapi negara tersebut hanya menikmati kurang dari 1% dari nilai ekonomi tersebut karena sebagian besar emas diekspor dalam bentuk mentah.
Guinea juga menghadapi persaingan dari Ghana, Mali, dan Burkina Faso yang sama-sama mengembangkan industri pemurnian emas domestik untuk meningkatkan nilai tambah.
Produksi emas industri Guinea saat ini didominasi oleh AngloGold Ashanti dan Nordgold, sementara kawasan Afrika Barat secara keseluruhan diperkirakan menghasilkan sekitar 11 juta ons emas pada tahun 2025.






