LINTAS BISNIS – Harga emas dunia mulai bangkit setelah sempat mengalami tekanan. Namun, pemulihan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengakhiri tren bearish dalam jangka pendek.
Market Analyst StoneX Fawad Razagzada menilai pergerakan emas masih menghadapi risiko penurunan, dengan level US$4.000 per ons troi menjadi batas penting yang perlu diperhatikan investor.
Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), harga emas tercatat naik 0,196% ke US$4.168,04 per ons troi saat berita ini ditulis.
Menurut Razagzada, rebound emas dalam beberapa hari terakhir belum menunjukkan kekuatan yang cukup untuk mengubah prospek jangka pendek. Pelemahan harga minyak dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih dovish memang memberikan ruang bagi emas untuk menguat.
Namun, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan harga emas.
“Untuk saat ini, jalur dengan resistensi paling kecil dan risiko jangka pendek dalam prospek emas masih sedikit condong ke downside,” ujar Razagzada dalam analisis teknikalnya.
Support US$4.000 Jadi Perhatian
Emas sebelumnya sempat turun menembus level terendah pekan lalu di US$4.111 per ons troi sebelum kembali mengalami penguatan.
Penurunan yield Treasury dan harga minyak membantu pemulihan emas setelah kenaikan biaya pinjaman serta penguatan dolar AS sebelumnya memberikan tekanan.
Meski demikian, Razagzada menilai belum terdapat perubahan fundamental yang cukup kuat untuk memastikan yield obligasi dan dolar AS akan terus melemah.
Secara teknikal, emas kini menguji zona support utama di kisaran US$4.000–US$4.120 per ons troi.
Kemampuan emas bertahan di area tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi pembeli. Namun, emas masih membutuhkan penguatan lebih lanjut untuk benar-benar membalikkan tren bearish.
Jika support tersebut ditembus pada grafik mingguan, prospek emas berpotensi semakin negatif. Level US$4.000 per ons troi menjadi batas psikologis sekaligus area penting bagi tren jangka panjang.
Penembusan yang meyakinkan di bawah level tersebut dapat melemahkan struktur bullish emas secara signifikan.
Bahkan, jika harga menembus US$4.106 per ons troi, emas berpotensi kembali menuju US$4.000 dan selanjutnya menguji level terendah Juni di sekitar US$3.942 per ons troi.
Emas Perlu Tembus US$4.282 untuk Balik Bullish
Di sisi lain, peluang emas untuk kembali bullish masih terbuka.
Razagzada menilai emas setidaknya perlu menembus zona resistance US$4.235–US$4.282 per ons troi untuk mengakhiri bias bearish jangka pendek.
Selain faktor teknikal, arah emas akan sangat bergantung pada data ekonomi AS. Laporan indeks harga konsumen (CPI) AS pekan depan menjadi salah satu katalis utama yang ditunggu pasar.
Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed sehingga membuka ruang bagi emas untuk melanjutkan rebound.
Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi, terutama jika ketegangan di Timur Tengah belum mereda, berpotensi mendorong yield obligasi AS kembali naik dan meningkatkan tekanan jual terhadap emas.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed sebelumnya telah menjadi lebih dovish setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan. Namun, angka probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober dalam naskah sumber perlu diverifikasi kembali karena tercantum sekitar 2055, yang kemungkinan merupakan kesalahan penulisan atau format angka.
Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang
Di tengah tekanan teknikal, permintaan bank sentral masih menjadi bantalan bagi harga emas.
World Gold Council mencatat bank sentral global melakukan pembelian bersih 39 ton emas pada Agustus. Dengan tambahan tersebut, akumulasi pembelian yang dilaporkan sepanjang 2026 mencapai sekitar 170 ton.
China menjadi pembeli terbesar pada Agustus, disusul Uzbekistan dan Polandia.
Razagzada menilai akumulasi emas oleh bank sentral merupakan faktor struktural yang positif bagi harga emas dan dapat membatasi ruang penurunan.
Namun, untuk jangka pendek, permintaan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah gambaran teknikal emas yang masih cenderung bearish.










