GPMT, ICD Forum Bersinergi Tingkatkan Industri Pakan Ternak

Lintas Bisnis.com Jakarta – Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menilai perlu banyak pertimbangan sebelum eksekusi proyek penanaman sorgum besar-besaran di berbagai daerah terutama Jawa Tengah dan Timur (Jabar dan Jatim), Nusa Tenggara Barat dan Timur (NTB, NTT) terutama dampak lingkungan. Usaha penanaman sorgum pasti memerlukan luas lahan yang sangat besar, bahkan cenderung merambah hutan dan gunung.

“Karena (penanaman) dengan luas hanya beberapa hektar kurang cocok. Sementara, lokasi remote (terpencil) juga sulit proses. Sehingga (pengusaha) perlu cek dulu efektifitas dan potensi lahan yang tersedia. Kalau sudah cek, GPMT antusias berkolaborasi serta bersinergi meningkatkan industri pakan ternak,” kata Ketua GPMT Deny Mulyono mengatakan kepada Redaksi, Minggu (27/9/2020).

Poin Kedua, terutama industry pasti memerlukan bahan baku yang standard dan berkelanjutan (quantity dan quality). Sorgum adalah sesuatu yang baru, sementara komoditas yang sudah lama seperti jagung, ternyata belum bisa mengungguli harga yang impor dari Argentina, Brazil. Pakan ternak menyangkut hajat hidup orang banyak. Formulasinya harus dengan biaya yang sangat rendah.

“Saat ini, substitusi yang paling ideal tetap jagung, gandum dan cassava. Untuk pakan ayam dan ikan berbeda. Pakan ikan lebih pas menggunakan (bahan baku) cassava chips,” kata Deny Mulyono.

Berdasarkan riset yang pernah ada, jika dalam formula (tertinggi) cassava mencapai sekitar 15 persen. Kalau bahan baku pakan diganti dengan sorgum, formula mencapai 20 persen. GPMT juga mempertanyakan mengenai perbandingan harga sorgum (kering) dan cassava kering. Formulasi dengan biaya murah sangat penting. Karena bahan baku berkontribusi 80 persen untuk pembuatan pakan. Pengubahan harga bahan baku akan sangat mempengaruhi formula.

“Yang lebih signifikan, sorgum harus tersedia secara kuantitas, harga terjangkua dan kualitas yang sebanding dengan (bahan baku) subsitusi lain. Dalam hal ini, misalkan cassava kering atau gaplek. Pakan akan lebih efektif dengan gaplek, baik ketercernaan dan starch (pati) yang tinggi. Dua hal ini sangat penting untuk keberhasilan industri pakan akuakultur,” tegas Deny Mulyono

Sementara itu, ICD (Indonesian Cerdas Desa) Forum meyakini sorgum yang diolah menjadi tepung hanya memerlukan waktu empat bulan. Para periode kedua, petani tidak usah menanam kembali, karena sorgum sudah jadi tepung. Dengan demikian, tapioka (tepung hasil olahan singkong) tergeser sorgum.

“Kalau sorgum ditanam secara intensif oleh petani, nilai (keuntungan) tidak kalah dibanding jagung. Dalam waktu yang sama, sekali tanam jagung untuk sekali panen. Tetapi kalau sorgum, sekali tanam untuk tiga kali panen,” tutur Nuryanto Djojosuharto dari ICD Forum.

Dalam penelitian serta kegiatan lapangan ICD sudah  menemukan fakta-fakta (mengenai sorgum) yang memberi banyak benefit untuk petani. Olahan sorgum untuk pakan ternak dibagi dua, yakni panen berupa daging (sapi dan kambing) dan panen berupa telur (ayam). Untuk sapi dan kambing; jagung sebagai bahan baku pakan dengan masa tanam 90 hari. Sementara sorgum sebagai bahan baku pakan dengan masa tanam 70 hari. Untuk jagung, dengan masa tanam 90 hari, petani harus tanam lagi dengan modal tambahan.

“Kalau sorgum, masa tanam 70 hari, dan langsung tumbuh lagi (tanpa modal tambahan). Fakta lain, banyak pabrik di Lampung tutup karena tidak bisa menanam singkong. Sari singkong untuk tepung yang dipanen pasca usia tanam 10  bulan. Harga singkong hanya Rp 1000/kilo. Usia panen (10 bulan) tersebut dengan rata-rata produksi 26 ton per hektar. Sehingga, hitung-hitungannya, sorgum lebih menguntungkan ketimbang cassava, jagung,” kata Nuryanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *