LINTAS BISNIS – Pemerintah Iran mengumumkan bahwa kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, meskipun konflik militer terbaru di kawasan telah mereda.
Kebijakan ini menandai pendekatan baru Iran yang tidak menutup jalur pelayaran vital tersebut secara total, tetapi menerapkan pembatasan selektif terhadap negara-negara tertentu.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Menurut otoritas Iran, kapal dari negara lain masih diperbolehkan melintas, namun harus melalui proses pemeriksaan ketat dan dalam beberapa kasus dikenakan biaya transit. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan nasional sekaligus mempertahankan kendali strategis di kawasan Teluk.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat menurun drastis sejak pecahnya konflik, dengan hanya sebagian kecil kapal yang berani melintas. Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir, kapal-kapal dari negara seperti Jepang dan Prancis mulai kembali melintasi jalur tersebut setelah melalui koordinasi dengan pihak Iran.
Kebijakan pembatasan ini memicu kekhawatiran di pasar global, mengingat potensi gangguan terhadap distribusi energi dunia. Sejumlah analis menilai langkah Iran dapat meningkatkan ketegangan geopolitik, terutama dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Washington maupun Tel Aviv terkait kebijakan tersebut. Namun, pengamat memperkirakan bahwa dinamika di Selat Hormuz akan tetap menjadi faktor kunci dalam stabilitas ekonomi dan keamanan global dalam waktu dekat.






