LINTAS BISNIS – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyiapkan sebanyak 139.898 judul buku digital untuk dapat dimanfaatkan masyarakat melalui Strategi Integrasi dan Gerakan Akses Publik Deposit (SIGAP Deposit).
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari transformasi pengelolaan koleksi deposit Perpusnas agar kekayaan pengetahuan bangsa tidak hanya dihimpun dan dilestarikan, tetapi juga semakin mudah ditemukan dan dimanfaatkan masyarakat.
SIGAP Deposit digagas Direktur Deposit dan Pengembangan Koleksi Perpusnas, Indra Astuti, untuk memperkuat pendayagunaan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) yang dihimpun melalui mekanisme serah simpan.
Menurut Indra, koleksi deposit memiliki nilai strategis karena merekam perkembangan pemikiran, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia.
“SIGAP Deposit tidak hanya berbicara tentang bagaimana koleksi dihimpun dan disimpan. Yang ingin kami dorong adalah bagaimana kekayaan pengetahuan tersebut semakin mudah ditemukan dan dimanfaatkan masyarakat untuk belajar, penelitian, dan pengembangan pengetahuan,” kata Indra di Jakarta, Minggu (4/10/2026)
Melalui SIGAP Deposit, sebanyak 139.898 judul buku digital telah disiapkan untuk dilayankan kepada masyarakat dengan target pemanfaatan sedikitnya 10 ribu pemustaka setiap tahun.
Transformasi tersebut mengubah orientasi pengelolaan deposit yang sebelumnya lebih bertumpu pada penghimpunan, pelestarian, dan pemanfaatan koleksi secara fisik menjadi layanan yang semakin memudahkan masyarakat menemukan referensi dan memanfaatkan koleksi digital sesuai ketentuan.
Mahasiswa dan pelajar dapat memanfaatkan koleksi sebagai sumber belajar. Sementara dosen dan peneliti dapat menggunakannya sebagai sumber informasi penelitian, guru untuk mendukung pembelajaran, serta komunitas literasi dan masyarakat umum untuk memperluas akses terhadap sumber pengetahuan.
“Koleksi deposit merupakan bagian dari memori kolektif bangsa. Nilainya bukan hanya terletak pada seberapa banyak karya yang berhasil kita himpun, tetapi juga seberapa jauh pengetahuan di dalamnya dapat ditemukan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Indra.
Akses Tetap Mengikuti Aturan Hak Cipta
Perluasan akses melalui SIGAP Deposit bukan berarti seluruh buku digital dapat dibaca, disalin, atau diunduh secara bebas.
Perpusnas tetap menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk terkait hak cipta dan serah simpan KCKR.
Bentuk akses diberikan secara bertingkat sesuai karakteristik dan status masing-masing koleksi. Masyarakat dapat mengakses informasi atau metadata bibliografis, mengetahui keberadaan koleksi, memanfaatkan koleksi fisik, hingga memperoleh akses terhadap konten digital tertentu sesuai hak dan ketentuan yang berlaku.
“Semangatnya adalah membuka akses seluas mungkin sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, akses publik bukan berarti menghilangkan perlindungan hak cipta. Keduanya harus berjalan beriringan,” jelas Indra.
Dikembangkan di Jakarta dan 10 Provinsi
Perluasan pendayagunaan koleksi deposit juga tidak hanya bertumpu pada layanan Perpusnas di Jakarta.
Pada tahap awal, SIGAP Deposit akan dikembangkan melalui Jakarta dan 10 provinsi sebagai lokasi percontohan dengan melibatkan perpustakaan provinsi.
Model kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuat manfaat koleksi deposit secara bertahap semakin dekat dengan masyarakat di daerah.
Pengembangan SIGAP Deposit melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum, Perpusnas, perpustakaan provinsi, dan penerbit.
Menurut Indra, kolaborasi menjadi kunci karena transformasi layanan deposit tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan, tata kelola, sistem, sumber daya manusia, serta keterlibatan berbagai pihak.
“Transformasi ini tidak mungkin dilakukan Perpusnas sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi agar koleksi yang sudah dihimpun dan dilestarikan benar-benar dapat memberikan manfaat yang semakin luas, tanpa meninggalkan aspek perlindungan dan tata kelola yang baik,” katanya.
SIGAP Deposit tidak semata-mata diarahkan untuk membangun aplikasi baru. Inisiatif tersebut dirancang untuk membenahi tata kelola pendayagunaan KCKR agar lebih terstandardisasi, terintegrasi, berbasis data, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Pada tahap awal, Perpusnas telah menyelesaikan pemetaan proses bisnis pendayagunaan KCKR, pemetaan kebutuhan sistem, penyusunan SOP Pendayagunaan KCKR, serta draf Peraturan Perpusnas.
Fondasi tersebut selanjutnya akan dikembangkan melalui integrasi sistem dan data, penguatan indikator kinerja, dashboard monitoring, serta implementasi layanan secara bertahap.
Dalam jangka panjang, pengembangan SIGAP Deposit diarahkan menuju National Deposit Platform yang diperkuat dengan pelestarian digital, keamanan data, dan interoperabilitas.
Perpusnas juga menyiapkan indikator kinerja untuk mengukur sejauh mana koleksi dimanfaatkan, layanan digunakan, kualitas proses meningkat, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan berkembang.
SIGAP Deposit dikembangkan sebagai proyek perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II yang dipimpin Indra Astuti. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Perpustakaan dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, bertindak sebagai mentor.
Indra menegaskan, pengembangan SIGAP Deposit tidak berhenti pada penyelesaian proyek perubahan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari transformasi kelembagaan Perpusnas secara berkelanjutan.
“Koleksi yang dilestarikan menjaga pengetahuan agar tidak hilang. Ketika koleksi itu didayagunakan, pengetahuan di dalamnya tetap hidup. SIGAP Deposit ingin menjembatani keduanya, menjaga kekayaan pengetahuan bangsa sekaligus mendekatkannya kepada masyarakat,” pungkas Indra.










