Home / Bisnis / Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat, Investor Cermati Kebijakan Buyback Obligasi AS

Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat, Investor Cermati Kebijakan Buyback Obligasi AS

LintasBisnis.com — Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan mata uang kawasan terjadi di tengah tekanan terhadap dolar AS dan perhatian investor terhadap rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah menguat 0,19% ke level Rp17.714 per dolar AS pada pukul 10.26 WIB. Penguatan tersebut melanjutkan tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya mata uang Garuda ditutup menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp17.748 per dolar AS.

Penguatan juga terjadi pada mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, yakni 0,98% ke level 1.380,67 per dolar AS.

Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan 0,21% ke level 31,8720 per dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,13% menjadi 1,2705 per dolar AS, sedangkan baht Thailand naik 0,16% ke level 32,8130 per dolar AS.

Yen Jepang menguat tipis 0,04% ke level 158,98 per dolar AS. Rupee India naik 0,05% menjadi 95,7112 per dolar AS, sementara yuan China menguat 0,02% ke level 6,7234 per dolar AS.

Dolar Hong Kong juga tercatat menguat tipis 0,01% ke level 7,8431 per dolar AS.

Namun, tidak seluruh mata uang kawasan mampu menguat. Ringgit Malaysia melemah 0,02% ke level 4,0457 per dolar AS. Sementara itu, peso Filipina turun 0,08% menjadi 61,7050 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen terhadap dolar AS masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar valuta asing Asia. Investor kini mencermati arah kebijakan moneter AS, perkembangan pasar obligasi pemerintah, serta prospek suku bunga Federal Reserve.

Tekanan terhadap dolar AS salah satunya dipicu pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengenai kemungkinan pemerintah meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah.

Departemen Keuangan AS juga mempertimbangkan pembelian sekuritas dengan tenor lebih panjang pada kuartal mendatang. Rencana tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena pembelian kembali obligasi dapat memengaruhi imbal hasil surat utang pemerintah AS dan pada akhirnya berdampak terhadap pergerakan dolar.

Indeks dolar AS sebelumnya tercatat melemah lebih dari 0,8% dalam sepekan dan berada di sekitar level 98,82, yang merupakan posisi terendah dalam tiga bulan terakhir.

Di pasar Eropa, euro bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan dan terakhir diperdagangkan pada US$1,1685 per euro. Poundsterling Inggris juga menguat 0,08% menjadi US$1,3643 per pound.

Ke depan, pergerakan mata uang Asia diperkirakan masih akan sensitif terhadap perkembangan kebijakan ekonomi AS, arah imbal hasil obligasi Treasury, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Bagi rupiah, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang akan menentukan ruang penguatan mata uang Garuda di tengah dinamika pasar keuangan global.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *