Home / Bisnis / Rupiah Menguat ke Rp17.713 per Dolar AS, Pasar Cermati Sinyal The Fed

Rupiah Menguat ke Rp17.713 per Dolar AS, Pasar Cermati Sinyal The Fed

LintasBisnis.com – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka menguat 9 poin atau 0,05% ke level Rp17.713 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, Senin (31/8/2026), rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,16% ke level Rp17.722 per dolar AS.

Dikutip dari Reuters, pergerakan dolar AS cenderung tertahan seiring investor mencermati meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September mendatang. Perhatian pasar tertuju pada pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat sedikit melemah ke level 99,37.

Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di sekitar level 160 per dolar AS pada Selasa. Pergerakan yen turut menjadi perhatian setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent meningkatkan tekanan terhadap Bank of Japan (BoJ) untuk menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini.

Yen Jepang terakhir diperdagangkan di level 159,81 per dolar AS.

Di sisi lain, euro relatif stabil di level US$1,11623 per dolar AS setelah mencatat kenaikan hampir 1,96% sepanjang Agustus. Poundsterling Inggris berada di level US$1,35575 per dolar AS setelah menguat 0,54% pada bulan lalu.

Dolar Australia juga sedikit menguat ke level US$0,7172 per dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru berada di level US$0,5921 per dolar AS.

“Patut dicatat bahwa kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Treasury gagal menopang USD,” kata Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Menurut Kong, pelemahan dolar AS pada perdagangan sebelumnya kemungkinan mencerminkan penilaian ulang pasar terhadap apakah sikap hawkish Kevin Warsh cukup untuk memulihkan kredibilitas The Fed.

“Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada bulan September juga menambah tekanan pada USD,” ujarnya.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *