Home / Bisnis / Bitcoin Tergelincir usai Profit Taking, Peluang Tembus US$70.000 Masih Terbuka

Bitcoin Tergelincir usai Profit Taking, Peluang Tembus US$70.000 Masih Terbuka

LINTAS BISNIS – Harga Bitcoin (BTC) melemah tipis pada perdagangan Kamis (16/7/2026) pagi setelah investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul reli yang membawa aset kripto terbesar di dunia itu ke level tertinggi dalam tiga pekan.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, harga Bitcoin turun 0,39% dalam 24 jam terakhir ke level US$64.679,03 per koin atau sekitar Rp1,17 miliar (kurs Rp18.140 per dolar AS). Meski demikian, kapitalisasi pasar kripto global masih naik tipis 0,07% menjadi US$2,23 triliun.

Sementara itu, Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar menguat 0,77%. Ethereum naik 1,51% ke US$1.915, sedangkan Binance Coin (BNB) terkoreksi 0,22% ke US$580.

Aksi profit taking terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar setelah data inflasi produsen Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Producer Price Index (PPI) turun 0,3% secara bulanan pada Juni, sementara secara tahunan inflasi produsen tercatat 5,5%, lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya harga barang jadi sebesar 1,4%, meski harga sektor jasa masih meningkat 0,2%.

Ekonom Mohamed El-Erian menilai data inflasi tersebut menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Menurutnya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Sentimen positif itu juga diperkuat oleh data Consumer Price Index (CPI) yang sehari sebelumnya menunjukkan perlambatan inflasi konsumen. Kombinasi kedua data tersebut meningkatkan optimisme bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda, meski ketegangan geopolitik masih menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pasar energi.

Trading resource The Kobeissi Letter menyebut ekspektasi inflasi pasar terus menurun, seiring berkurangnya keyakinan investor terhadap kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga. Perubahan ekspektasi tersebut juga tercermin dalam CME FedWatch Tool, di mana peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September tidak lagi menjadi skenario utama.

Meski prospek makroekonomi semakin mendukung aset berisiko, para analis mengingatkan bahwa Bitcoin masih harus melewati sejumlah level resistensi penting sebelum melanjutkan penguatan.

Trader Daan Crypto Trades menyebut area likuiditas terbesar berada di kisaran US$65.600 dan terutama US$67.200. Jika level tersebut berhasil ditembus, peluang Bitcoin melanjutkan kenaikan menuju US$70.000 akan semakin terbuka dan mengembalikan pergerakan harga ke kisaran perdagangan US$60.000–US$80.000.

Di sisi lain, analis Rekt Capital mengingatkan bahwa Bitcoin kini mendekati exponential moving average (EMA) 50 bulan, yang secara historis kerap menjadi area penolakan harga pada fase bearish.

Sementara itu, trader Killa memperkirakan pola historis selama 12 bulan terakhir masih berpotensi terulang. Artinya, Bitcoin dapat mengalami pullback atau koreksi jangka pendek hingga akhir bulan sebelum menentukan arah tren berikutnya. Dengan demikian, meski prospek jangka menengah tetap positif didukung ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *