LINTAS BISNIS – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan suku bunga, perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 18% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp23,1 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan di seluruh segmen pembiayaan, baik otomotif maupun non-otomotif. Hingga akhir Juni 2026, total piutang pembiayaan yang dikelola Adira Finance juga meningkat 7% menjadi Rp64,9 triliun.
Pertumbuhan bisnis Adira Finance berlangsung seiring membaiknya industri otomotif nasional. Sepanjang semester I 2026, penjualan ritel sepeda motor baru meningkat 10% menjadi 3,3 juta unit, sedangkan penjualan mobil baru naik 11% menjadi 434 ribu unit.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, mengatakan perusahaan akan terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.
“Kami akan terus mengutamakan kualitas pembiayaan, menerapkan pengelolaan risiko yang prudent, serta mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Untuk memperluas layanan kepada pelanggan, Adira Finance kini didukung 844 jaringan usaha yang terdiri atas kantor cabang dan kantor satelit. Jaringan tersebut melayani sekitar 2,6 juta konsumen di seluruh Indonesia.
Dari sisi keuangan, Adira Finance membukukan total pendapatan sebesar Rp6,5 triliun atau meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, beban pendanaan turun 6%, sementara beban penyisihan kerugian penurunan nilai menyusut 13% menjadi Rp1,16 triliun.
Efisiensi tersebut mendorong kenaikan laba bersih perusahaan sebesar 37% menjadi Rp1,1 triliun pada semester I 2026.
Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba didukung oleh kinerja bisnis yang solid serta pengelolaan biaya yang disiplin.
“Perusahaan akan terus menjaga kualitas aset dan mengoptimalkan komposisi sumber pendanaan di tengah tren kenaikan suku bunga, dengan tetap memperhatikan kecukupan likuiditas dan efisiensi biaya guna mempertahankan profitabilitas,” katanya.
Di sisi makroekonomi, ketidakpastian global masih membayangi akibat konflik di Timur Tengah yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Kondisi tersebut mengganggu pasokan energi dan perdagangan internasional, sehingga memicu kenaikan harga komoditas, tekanan inflasi, dan perlambatan ekonomi dunia.
Dampaknya turut dirasakan Indonesia melalui meningkatnya volatilitas pasar keuangan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kenaikan biaya impor. Sebagai respons, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate secara bertahap sebesar 100 basis poin hingga mencapai 5,75% pada Juni 2026.
Meski demikian, Adira Finance optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan bisnis dengan strategi pembiayaan yang selektif, pengelolaan risiko yang kuat, serta fokus pada efisiensi operasional di tengah dinamika ekonomi global.





