Home / Finansial / Bitcoin Menguat ke US$64.660, tetapi Volatilitas Turun ke Level Terendah

Bitcoin Menguat ke US$64.660, tetapi Volatilitas Turun ke Level Terendah

LintasBisnis.com – Harga Bitcoin (BTC) menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026) pagi. Namun, kenaikan tersebut berlangsung di tengah kondisi pasar yang semakin tenang, ditandai dengan volatilitas Bitcoin yang turun ke level terendah dalam beberapa tahun.

Mengacu data CoinMarketCap pukul 06.40 WIB, harga Bitcoin naik 0,51% menjadi US$64.660 per koin. Dengan asumsi kurs Rp17.819 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,15 miliar.

Penguatan juga terjadi di pasar kripto secara keseluruhan. Kapitalisasi pasar kripto global naik 0,34% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,2 triliun.

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar turut menguat 0,51%. Ethereum (ETH) naik 0,39% menjadi US$1.916, sedangkan Binance Coin (BNB) melemah 0,27% menjadi US$603.

Dikutip dari CoinDesk, Bitcoin saat ini bergerak dalam rentang perdagangan yang relatif sempit setelah sebelumnya mengalami lonjakan harga yang dipicu kemenangan Donald Trump dan gelombang pembelian Bitcoin oleh perusahaan sebagai cadangan aset kripto.

Pergerakan yang semakin tenang tersebut membuat trader yang selama ini mengandalkan volatilitas Bitcoin mulai mencari peluang di aset digital maupun instrumen lain yang menawarkan pergerakan harga lebih besar.

“Bitcoin secara historis merupakan aset yang digerakkan investor ritel, begitu juga dengan seluruh pasar kripto. Kini pasar ritel mulai beralih ke saham, terutama saham berbasis kecerdasan buatan (AI), saham melalui blockchain dalam bentuk tokenisasi, serta pasar prediksi,” ujar Global Head of Trading B2C2 Edmond Goh.

Menurut Goh, pasar aset digital juga semakin matang seiring semakin banyaknya institusi keuangan tradisional yang masuk ke sektor tersebut.

Efisiensi pasar meningkat karena jumlah pelaku semakin banyak, model manajemen risiko semakin efektif, serta aktivitas perdagangan frekuensi tinggi atau high-frequency trading (HFT) dari institusi keuangan tradisional semakin berkembang.
Di sisi lain, proses deleveraging secara umum turut menekan volatilitas. Posisi open interest Bitcoin kini berada di dekat level terendah sepanjang masa.

Volatilitas Bitcoin juga semakin mendekati tingkat volatilitas saham tradisional. Secara historis, Bitcoin memiliki pergerakan harga lebih dari lima kali lebih volatil dibandingkan S&P 500.

Namun, volatilitas terealisasi Bitcoin selama 30 hari kini berada pada tingkat tahunan sekitar 4,24%, sedangkan S&P 500 mencapai sekitar 18,46%.

Selisih tersebut menjadi yang tersempit dalam sejarah. Artinya, pergerakan harga Bitcoin kini jauh lebih tenang dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara tekanan jual dari perusahaan dan penambang Bitcoin yang membatasi kenaikan harga dengan berkurangnya leverage trader spekulatif serta akumulasi investor jangka panjang yang membantu menahan tekanan penurunan.

Managing Partner Monarq Asset Management Shiliang Tang mengatakan Bitcoin saat ini terjebak dalam stagnasi harga yang menghasilkan rezim volatilitas sangat rendah.

“Penjualan dari perusahaan yang memiliki cadangan Bitcoin seperti Strategy dan MARA terus menciptakan batas atas pasokan. Di sisi lain, leverage spekulatif telah sepenuhnya tersapu dalam beberapa bulan terakhir sehingga menghilangkan ancaman likuidasi berantai,” ujar Tang.

Menurut Tang, dompet Bitcoin milik investor jangka panjang juga belakangan ini terus melakukan akumulasi berdasarkan data on-chain.

Dengan kondisi tersebut, baik pembeli maupun penjual belum memiliki keyakinan yang cukup kuat untuk mendorong harga Bitcoin bergerak secara tegas ke salah satu arah.

Pasar kini menunggu katalis baru yang dapat menjadi pemicu bagi Bitcoin untuk keluar dari fase perdagangan yang relatif datar dan menentukan arah pergerakan berikutnya.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *