LintasBisnis.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis (3/9/2026) pagi. Pelemahan terjadi ketika salah satu indikator permintaan Bitcoin di pasar on-chain kembali memasuki zona negatif setelah sempat menunjukkan perbaikan pada Agustus.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.15 WIB, harga Bitcoin turun 0,25% menjadi US$77.019,43 per koin. Dengan asumsi kurs Rp17.730 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,36 miliar per Bitcoin.
Tekanan juga terjadi di pasar kripto secara keseluruhan. Kapitalisasi pasar kripto global turun 0,19% dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar US$2,6 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga terkoreksi 0,34%.
Sejumlah aset kripto utama bergerak beragam. Harga Ethereum (ETH) anjlok 1,37% menjadi sekitar US$2.379, sementara Binance Coin (BNB) justru menguat 0,78% ke level US$685.
Dikutip dari Cointelegraph, data CryptoQuant menunjukkan indikator apparent demand Bitcoin kembali negatif setelah sempat mengalami pemulihan singkat saat reli pada Agustus.
Indikator tersebut mengukur selisih antara penerbitan Bitcoin baru melalui aktivitas penambangan dengan perubahan jumlah Bitcoin yang berada dalam kondisi tidak aktif.
Ketika indikator apparent demand berada di zona positif, kondisi tersebut mengindikasikan adanya permintaan spot aktif. Artinya, koin-koin lama kembali bergerak dan pasar mampu menyerap pasokan baru yang dihasilkan oleh penambang.
Sebaliknya, indikator negatif menunjukkan jumlah Bitcoin yang masuk ke kondisi tidak aktif lebih besar dibandingkan pasokan baru yang diterbitkan penambang. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa permintaan aktif di pasar sedang melemah.
Arus Keluar ETF Bitcoin Ikut Menekan
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari pasar Exchange Traded Fund (ETF). ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar sekitar US$236 juta sehari sebelumnya.
Arus dana keluar tersebut menambah tekanan terhadap Bitcoin, terutama ketika sentimen di pasar keuangan global juga memburuk. Aset berisiko menghadapi tekanan seiring aksi jual di pasar obligasi global dan bursa saham Asia.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sempat turun di bawah 4,89%, meski tekanan di pasar obligasi global mulai sedikit mereda.
Sementara itu, pasar valuta asing turut menjadi perhatian. Pasangan dolar AS terhadap yen Jepang (USD/JPY) bergerak turun ke sekitar 158,5 setelah sebelumnya mendekati level psikologis 160.
Level tersebut secara luas dipandang sebagai zona yang berpotensi meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang dan Bank of Japan (BOJ). Namun, belum terdapat pengumuman resmi mengenai adanya intervensi.
Di kawasan Asia, pasar saham juga mengalami tekanan cukup dalam. Pergerakan tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan harga minyak serta aksi ambil untung pada saham-saham yang berkaitan dengan sektor kecerdasan buatan (AI).
Kombinasi melemahnya permintaan aktif Bitcoin, arus keluar ETF, serta meningkatnya tekanan pada aset berisiko membuat pergerakan Bitcoin masih menghadapi sejumlah tantangan dalam jangka










