Home / Bisnis / Harga Emas Diprediksi Kembali Menguat, 16 Analis Wall Street Kompak Bullish

Harga Emas Diprediksi Kembali Menguat, 16 Analis Wall Street Kompak Bullish

LintasBisnis.com – Harga emas kembali menguat setelah melewati pekan yang penuh gejolak. Logam mulia tersebut sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS, serta keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.

Dikutip dari Kitco News, Sabtu (19/9/2026), harga emas spot berada di kisaran US$4.377 per troy ounce pada akhir pekan. Harga tersebut membuat emas mencatatkan kinerja positif dalam lima hari perdagangan sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tiga pekan berturut-turut.

Pergerakan emas dinilai cukup menarik karena terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Keputusan tersebut sebelumnya diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan instrumen berimbal hasil.

Namun, emas justru mampu bangkit setelah tekanan awal mereda. Harga emas sempat menyentuh level terendah mingguan sekitar US$4.261,80 per troy ounce pada Rabu (16/9), sebelum kemudian kembali menguat dan mencapai level tertinggi mingguan sekitar US$4.400,60 per troy ounce pada Jumat.

16 Analis Kompak Prediksi Harga Emas Naik

Prospek emas pada pekan depan juga mendapat dukungan dari survei mingguan Kitco News. Sebanyak 16 analis Wall Street yang mengikuti survei tersebut seluruhnya memperkirakan harga emas akan kembali menguat.

Artinya, 100 persen responden Wall Street dalam survei tersebut memiliki pandangan bullish terhadap emas setelah logam mulia itu mampu bertahan dan kembali menguat meski The Fed menaikkan suku bunga.

“Emas akan naik. Pembeli emas muncul setelah pertemuan FOMC yang bernada hawkish. Hal itu sungguh mengesankan,” ujar Adam Button, kepala strategi mata uang di investingLive.

Senada, analis pasar senior Barchart.com Darin Newsom melihat adanya perubahan positif pada tren jangka pendek emas kontrak Desember.

Menurut Newsom, kondisi tersebut menunjukkan setidaknya terdapat sedikit peningkatan minat beli investor atau berkurangnya tekanan jual dari sisi investasi.

“Meskipun harga emas kontrak Desember sempat turun di bawah rata-rata pergerakan 45 hari pada penutupan Selasa lalu, hal itu tidak memicu aksi jual algoritmik,” kata Newsom.

Ia menambahkan, indikator teknikal lainnya, termasuk stochastic, menunjukkan emas lebih dekat dengan kondisi jenuh jual atau oversold dibandingkan jenuh beli atau overbought. Kondisi volatilitas pasar yang relatif netral juga dinilai dapat membuka ruang bagi munculnya minat beli baru pada pekan depan.

Inflasi dan Pasar Obligasi Jadi Perhatian

Sementara itu, Adrian Day, presiden Adrian Day Asset Management, menilai kondisi pasar obligasi Treasury AS yang bermasalah serta inflasi yang masih berlangsung menjadi faktor yang mendukung harga emas.

“Pasar Treasury yang bermasalah, ditambah dengan inflasi yang terus berlanjut, merupakan faktor positif bagi emas,” ujar Day.

Analis FxPro Alex Kuptsikevich juga melihat adanya perubahan penting pada pergerakan emas setelah keputusan The Fed.

Menurut dia, penurunan emas hingga di bawah US$4.250 setelah keputusan kenaikan suku bunga telah berhasil dipulihkan. Dari perspektif teknikal, pembalikan tersebut menunjukkan perubahan tren jangka menengah ke arah positif.

Kuptsikevich bahkan memperkirakan emas berpotensi mencapai US$4.500 dalam waktu dekat apabila kondisi yang mendukung tetap bertahan.

Meski demikian, pergerakan emas tetap akan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil Treasury, harga minyak, inflasi, serta perkembangan geopolitik global.

Dengan harga yang kembali berada di sekitar US$4.377 per troy ounce, pasar kini menantikan apakah emas mampu mempertahankan momentum penguatannya pada pekan perdagangan berikutnya.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *