Home / News / Popularia Ungkap Jejak Panjang Musik Populer Indonesia, dari Piringan Hitam hingga Era Digital

Popularia Ungkap Jejak Panjang Musik Populer Indonesia, dari Piringan Hitam hingga Era Digital

LINTAS BISNIS – Musik yang kini mudah didengarkan melalui berbagai platform digital ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke telinga pendengarnya. Di balik sebuah lagu terdapat proses rekaman, produksi, perdagangan, distribusi, perkembangan teknologi, hingga perubahan kebiasaan masyarakat dalam menikmati musik.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari “Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia”, pameran temporer hasil kolaborasi Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) dan Irama Nusantara.

Digelar mulai 19 September 2026 hingga 21 Februari 2027 di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Pantjoran PIK, pameran ini mengajak pengunjung menelusuri perkembangan musik populer Indonesia dari era Hindia Belanda hingga ekosistem musik masa kini.

Popularia tidak hanya menampilkan kisah musisi dan lagu, tetapi juga menyoroti orang-orang yang berada di balik perjalanan musik, mulai dari pihak yang merekam dan memproduksi musik, pedagang rekaman, label, hingga mereka yang menciptakan ruang agar musik dapat bertemu dengan pendengarnya.

Kurator GBTI Mitha Budhyarto mengatakan, musik dapat menjadi pintu masuk untuk melihat keberadaan sekaligus kontribusi masyarakat Tionghoa Indonesia dalam kehidupan budaya di Indonesia.

“Musik dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa Indonesia hadir dan berkontribusi dalam kehidupan budaya di Indonesia. Melalui rekaman, perdagangan, perkembangan teknologi, hingga berbagai bentuk keterlibatan dalam industri musik, kita dapat melihat bagaimana sebuah masyarakat turut menjadi bagian dari perjalanan musik populer Indonesia,” ujar Mitha.

Jejak Awal Industri Rekaman
Perjalanan musik populer Indonesia mulai berubah pada awal abad ke-20 ketika teknologi rekaman berkembang di Hindia Belanda.

Salah satu tokoh yang ditampilkan dalam pameran adalah Tio Tek Hong. Melalui tokonya di Batavia, ia memproduksi rekaman komersial musisi lokal dalam bentuk piringan hitam berbahan shellac.

Berbagai jenis musik seperti Melayu, keroncong, hingga stambul kemudian direkam dan diedarkan kepada masyarakat. Musik yang sebelumnya hanya dapat dinikmati melalui pertunjukan langsung mulai memiliki bentuk yang dapat direkam, disimpan, diperjualbelikan, dan dinikmati lebih luas.

Perjalanan tersebut juga melibatkan para saudagar rekaman di berbagai kota. Nama Tan Tik Hing di Semarang dan Lie Liang Swie di Surabaya menjadi bagian dari sejarah perkembangan awal perdagangan rekaman di Indonesia.

Popularia kemudian membawa pengunjung menelusuri perjalanan dari Pasar Baru pada awal abad ke-20 hingga Glodok pada dekade 1970-an.

Sejumlah nama turut muncul dalam perjalanan tersebut, antara lain Yo Kim Tjan, Tio Tek Djin, Miss Riboet Orion, Canary, Harry Lim, Amin “Cengli” Wijaya dari Musica Studios, Eugene Timothy dari Remaco, Johanes Soerjoko dari Aquarius, Log Zhelebour, hingga Adi Nugroho dari Dian/Prosound.

Musik Bukan Sekadar Lagu
Popularia juga menunjukkan bahwa sejarah musik tidak hanya berbicara mengenai lagu atau siapa yang menyanyikannya.

Pilihan musik yang tersedia pada suatu masa ikut membentuk kebiasaan mendengar masyarakat. Sebaliknya, perubahan selera masyarakat juga memengaruhi musik yang diproduksi dan beredar.

Berbagai materi dalam pameran memperlihatkan hubungan tersebut melalui Gambang Kromong, Pop Mandarin, karya Teresa Teng, hingga fenomena live karaoke.

Pengunjung juga dapat merasakan pengalaman mendengarkan melalui Listening Booth. Fasilitas tersebut memungkinkan pengunjung mendengarkan lagu dari berbagai periode sembari melihat kaitannya dengan perkembangan teknologi rekaman dan distribusi musik.

Kolaborasi dengan Irama Nusantara turut menghadirkan arsip serta dokumentasi musik populer Indonesia dari berbagai periode.

Periset Irama Nusantara Ignatius Aditya Adhiyatmaka mengatakan, arsip musik membantu melihat sejarah musik secara lebih luas, bukan hanya dari sisi lagu dan musisi.

“Arsip musik membantu kita memahami bahwa sejarah musik populer tidak hanya tentang lagu dan musisi, tetapi juga tentang bagaimana musik diproduksi, didistribusikan, dan didengarkan pada masanya,” kata Ignatius.

Menurutnya, perubahan teknologi, pola distribusi, serta selera masyarakat turut membentuk perjalanan musik Indonesia.

“Popularia menjadi kesempatan untuk menghadirkan kembali arsip tersebut sekaligus melihat cerita yang lebih luas di balik musik yang kita dengarkan,” ujarnya.

Dari Piringan Hitam ke Platform Digital
Perubahan teknologi kembali mengubah cara musik diproduksi, ditemukan, dan dibagikan.

Jika pada masa lalu toko rekaman, label, dan jaringan distribusi menjadi bagian penting agar sebuah lagu dapat sampai kepada pendengar, kini ekosistem tersebut berkembang melalui platform digital, komunitas, dan jaringan yang lebih cair.

Perubahan ini sekaligus membuka ruang bagi semakin banyak pelaku musik, mulai dari musisi, produser, kolektor, kritikus hingga pelaku kreatif di skena independen.

Popularia juga melihat bagaimana keterlibatan masyarakat Tionghoa Indonesia dalam musik populer terus berkembang, termasuk melalui perspektif pelaku musik keturunan Tionghoa Indonesia pada masa kini.

Cerita dalam pameran tidak berhenti pada objek dan arsip. Sejumlah program publik seperti talkshow, listening session, tur kuratorial, hingga music takeover turut disiapkan untuk mempertemukan pengunjung dengan berbagai perspektif mengenai perjalanan musik Indonesia.

Melalui pameran tersebut, sejarah musik populer Indonesia dapat dilihat dari sisi yang lebih luas: orang-orang yang merekamnya, ruang tempat musik berkembang, teknologi yang membuatnya dapat didengar, serta masyarakat yang menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia berlangsung hingga 21 Februari 2027 di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Pantjoran PIK.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *