Home / Pendidikan / Dari Membaca Menjadi Berkarya, Pesan Kepala Perpusnas untuk Generasi Muda

Dari Membaca Menjadi Berkarya, Pesan Kepala Perpusnas untuk Generasi Muda

LINTAS BISNIS – Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa membaca merupakan modal utama bagi setiap orang yang ingin menjadi penulis. Menurutnya, proses menulis lahir dari gagasan yang diperoleh melalui aktivitas membaca dan kemudian diolah menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Aminudin saat menghadiri Peluncuran Buku Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026 di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Minggu (21/6/2026).

“Modal utama menulis harus membaca. Proses menulisnya dari gagasan yang kita olah. Kemudian membuat kerangka, mengolah kata, dan mengonstruksi wacana harus meninjau kembali karya awal kita. Selain itu, harus ada proses dialog dengan calon pembaca kita,” ujarnya.

Aminudin menjelaskan bahwa menulis merupakan proses kreatif yang tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Ia menilai setiap penulis memiliki beragam motivasi, mulai dari kepentingan pribadi, misi sosial, hingga tanggung jawab intelektual.

Menurutnya, penulisan biografi maupun kisah inspiratif memiliki nilai penting sebagai media pembelajaran lintas generasi sekaligus dokumentasi sejarah. Ia mencontohkan buku yang pernah ditulisnya berjudul Visi Anak Pasar sebagai upaya merekam perjalanan hidup untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Aminudin juga menyoroti kondisi literasi nasional. Ia menegaskan bahwa tantangan utama literasi di Indonesia bukan terletak pada rendahnya minat baca masyarakat, melainkan keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pembaca.

“Berdasarkan penelitian yang kami lakukan pada 2021 dan 2022, masyarakat Indonesia sebenarnya ingin membaca. Persoalannya adalah buku yang sesuai dengan minat mereka belum tersedia secara memadai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolahnya, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup. Menurutnya, tingkat literasi tertinggi adalah kemampuan mencipta dan berkreasi.

Sementara itu, Founder ruangmenulis.id, Graece Tanus, menilai tingkat literasi masyarakat Indonesia perlu dipandang secara lebih objektif. Berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan pelajar di berbagai daerah, ia melihat antusiasme generasi muda terhadap kegiatan membaca dan menulis terus meningkat.

“Ketika saya masuk ke sekolah-sekolah dan bertemu para siswa, saya melihat antusiasme yang luar biasa. Mereka tetap mau menulis tanpa dibatasi ruang, waktu, maupun usia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, menekankan pentingnya menularkan semangat literasi kepada masyarakat. Menurutnya, berbagi ilmu dan pengalaman merupakan bagian penting dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Indra Defandra dari SIP Publishing mengungkapkan tingginya antusiasme peserta dalam Festival Kisah Inspiratif Nasional 2026. Dari ribuan peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan, sebanyak 459 penulis berhasil lolos proses kurasi dan karya mereka diterbitkan dalam 15 jilid buku.

“Banyak kisah perjuangan luar biasa yang ditulis dalam buku ini. Semua cerita menunjukkan bahwa inspirasi bisa datang dari siapa saja,” kata Indra.

Peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa semangat membaca dan menulis terus tumbuh di tengah masyarakat serta menjadi bagian penting dalam penguatan budaya literasi nasional.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *