LINTAS BISNIS — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat tipis pada perdagangan Jumat pagi (24/4/2026), meski tekanan dari sentimen global masih membayangi.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, rupiah menguat sebesar 22 poin atau 0,13% ke level Rp17.207 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup naik 57 poin, meskipun sempat melemah di awal sesi.
Di sisi lain, indeks dolar AS tercatat turun tipis sebesar 0,05% ke level 98,480. Namun demikian, secara global dolar masih menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama.
Penguatan rupiah terjadi di tengah dinamika global yang kompleks, termasuk lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik. Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik lebih dari 2% hingga mencapai US$107,97 per barel, tertinggi dalam tiga pekan terakhir.
Kenaikan harga energi ini dipicu oleh terhentinya perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, serta belum adanya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
Selain itu, dolar AS masih menguat terhadap mata uang utama lainnya. Euro tercatat melemah 0,15% menjadi US$1,1706, sementara yen Jepang juga sedikit tertekan ke level 159,53 per dolar AS.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik lainnya, termasuk pembatalan kunjungan dua pejabat AS ke Islamabad yang sebelumnya direncanakan untuk membahas upaya perdamaian regional.
Analis menilai penguatan rupiah saat ini cenderung bersifat terbatas dan lebih dipengaruhi faktor teknikal. Tekanan eksternal seperti harga minyak tinggi dan penguatan dolar AS secara global masih berpotensi menahan laju penguatan mata uang Garuda ke depan.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian yang masih tinggi di pasar global.





