LINTAS BISNIS – STMA Trisakti menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian” dalam rangka Dies Natalis ke-42. Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan industri untuk membahas dampak konflik geopolitik global terhadap ekonomi nasional, khususnya sektor perasuransian.
Ketua STMA Trisakti, Antonius Anton Lie, menegaskan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya menjadi isu global, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian Indonesia.
“Sebagai negara dengan ketergantungan pada stabilitas rantai pasok global dan fluktuasi harga energi, Indonesia berada pada titik di mana kewaspadaan adalah sebuah keharusan. Pemerintah saat ini juga melakukan intervensi agar masyarakat tetap mendapatkan harga BBM yang terjangkau,” ujar Antonius.
Ia juga menyoroti kendala distribusi energi, termasuk tertahannya kapal minyak di Selat Hormuz, yang menunjukkan tingginya risiko geopolitik terhadap sektor energi dan perlunya dukungan industri asuransi.
Dalam pemaparannya, Antonius menyebutkan empat faktor utama yang membuat kondisi ini krusial bagi industri perasuransian, yaitu volatilitas pasar modal, peningkatan risiko operasional, potensi klaim akibat perang, serta penurunan daya beli masyarakat.
Ketua Pengurus Yayasan Trisakti, Ainun Na’im, menambahkan bahwa ketegangan geopolitik turut mengganggu aktivitas ekonomi dan rantai pasok global.
“Situasi geopolitik saat ini mengakibatkan berbagai kegiatan ekonomi dan bisnis tidak dapat berjalan normal. Transportasi terganggu dan pemenuhan kebutuhan energi menjadi terhambat, sehingga ketidakpastian semakin tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia, Yulius Bhayangkara, menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antarnegara dalam menghadapi risiko global.
“Kami berharap dunia pendidikan dapat menghasilkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dalam menghadapi dampak perang, diperlukan jaminan reasuransi melalui kerja sama antarnegara,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, yang menyoroti dampak terhadap iklim investasi.
“Para investor cenderung melakukan wait and see. Hal ini berdampak pada industri asuransi karena daya beli masyarakat menurun dan kinerja produk unit link berpotensi melemah,” katanya.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, Budi Herawan, juga menilai kondisi geopolitik saat ini memberikan tekanan signifikan terhadap industri.
“Kondisi ini sangat menantang bagi industri perasuransian. Diperlukan terobosan serta kehadiran pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global,” ungkapnya.
Seminar ini turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, akademisi, dan praktisi industri. Kegiatan juga dirangkaikan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol perayaan Dies Natalis ke-42 STMA Trisakti.






